Langsung ke konten utama

Postingan

Ini Perbedaan Hoarder dan Penyayang Hewan Sejati

  Bertemu dengan orang yang peduli dengan hewan terlantar merupakan hal langka. Bagaimana tidak? Di zaman yang cenderung mendahulukan kepentingan pribadi, masih ada yang mau merawat makhluk yang kerap diabaikan. Padahal, hewan tersebut tidak mungkin membayar biaya hidup. Namun, tetap ada yang mau mengurusnya tanpa pamrih. Meskipun kelihatan mulia, tapi ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan pada individu yang suka mengumpulkan hewan. Segala sesuatu yang terlalu biasanya kurang baik, termasuk terlalu banyak mengurus binatang. Akibatnya, bukan hanya berdampak pada pemiliknya, tapi juga masyarakat sekitar dan hewan yang tinggal dalam rumah. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan memelihara hewan di rumah, asalkan terjamin kebersihan dan kesehatannya. Mahluk-makhluk itu sebaiknya dirawat dan tidak menimbulkan keresahan warga. Hewan hendaknya memperoleh makanan cukup dan keadaan rumah penampungan tetap bersih. Ini baru namanya pemilik bertanggung-jawab. Peliharalah hewan
Postingan terbaru

Pengalaman Menumpang Bis Listrik Pertama Medan

  Terkadang sesuatu yang tidak direncanakan justru menjadi kegiatan seru. Kebetulan yang menyenangkan, kata orang. Hanya spontan, tapi menjadi pengalaman baru, seperti menumpang bis listrik pertama di Medan.  Tanpa direncanakan, akhirnya saya bisa menumpang bis yang akhir-akhir ini jadi topik di berbagai media. Ceritanya, saya ada sedikit keperluan di sekitar Jl.  A. H. Nasution,  Medan Johor. Selesai urusan, saya duduk bersama sebungkus es dawet.  Sambil menikmati kesegaran es, saya heran, kok, banyak bis pariwisata yang lewat? Tampilannya pun unik, ada lampu-lampu di bodi bis. Boleh juga penampilannya yang meriah. Kendaraan ini berbeda dengan bis-bis pariwisata yang biasa berseliweran.  Saya teringat berita di medsos yang sempat dibaca kemarin. Menyusul Makassar,  Semarang,  Bali, Surabaya, serta Jakarta, Medan sudah memiliki bis listrik. Tanggal 4 Januari 2024, Pemko Medan resmi meluncurkan bis listrik dari stasiun di J-City, tak jauh dari Jl. A. H. Nasution lokasi saya menikmati es

Pesan Sederhana dari Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih

Ada yang belum tahu dongeng klasik Bawang Merah dan Bawang Putih? Dongeng ini cukup populer dituturkan dari zaman kakek nenek dulu, hingga anak cucu sekarang. Kisahnya sederhana, tentang kebaikan yang akhirnya menang melawan kejahatan.  Walaupun memberikan pesan moral, karakter tokoh-tokohnya dituturkan secara hitam putih. Tokoh Bawang Merah dikisahkan sangat jahat, tanpa sedikitpun celah kebaikan. Sebaliknya Bawang Putih selalu menerima keadaan, tidak ada upaya melawan dan memperbaiki nasib.  Diceritakan ada dua saudari tiri, yaitu kakak Bawang Merah dan adik Bawang Putih. Ibu Bawang Putih sudah meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan ibu Bawang Merah. Tak lama kemudian ayah meninggal, maka tinggallah Bawang Putih dengan keluarga tiri yang super kejam. Dia menjadi pembantu di rumah peninggalan ayahnya.  Seperti mayoritas alur dongeng, Bawang Merah dan ibunya memanfaatkan tenaganya. Dia  membersihkan  rumah, sedangkan mereka rebahan sambil main hape. Karakter Bawang Putih dituturkan

Pasar Malam, Hiburan Rakyat tanpa Sekat

Jika ditanya tentang pengalaman ke pasar malam saat masih kanak-kanak, saya tak akan bisa menjawab. Saya memang enggak pernah ke sana pas masih bocah. Dulu kami tinggal di kota kecil yang nggak pernah menyelenggarakan pasar malam. Kemeriahan serta gemerlap lampu-lampunya cuma saya tahu dari buku cerita dan majalah.  Setelah pindah ke kota besar di usia remaja, bukan berarti langsung ketemu pasar malam. Kalau pun ada, orang tua enggak bakalan kasih izin anaknya keluar malam tanpa pengawasan. Selain faktor keamanan, ada juga peristiwa tragis di pasar malam yang sempat membuat trauma warga sekitar. Lokasinya tak jauh  dari rumah saya.  Jadi, saat itu ada pertikaian antara dua ormas perihal areal parkir. Sejak dahulu kala, parkiran merupakan objek seksi yang kerap jadi rebutan. Nah, saat pasar malam digelar, pertikaian kembali terulang dan langsung memanas. Sekali ini kericuhannya lebih seru karena ada dendam yang  mengendap sejak lama. Ketika negosiasi antara dua ormas enggak berhas