Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Menelusuri E-Book Legal Bersama Warna-warni ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)




Hati senang dan hidup pun tenteram,, jika punya teman akrab dan buku bagus

- Mark Twain -


Sebelum pandemi, saya nyaris tak pernah melirik e-book.  Mungkin karena masalah kebiasaan, aneh saja rasanya membaca buku dari layar gadget. Bagi saya, perangkat ini hanya dipakai untuk melihat gambar atau video.  Kalau pun harus membaca dari gadget, cuma digunakan untuk teks yang singkat-singkat, seperti pesan chatting.


Ada keasyikan tersendiri ketika membolak-balikkan halaman buku konvensional. Lembar demi lembarnya seperti menarik untuk terus dibaca dan dibaca lagi.  Beda dengan e-book.  Kadang mata sudah perih duluan karena kelamaan melihat layar.  Belum lagi ketika membaca, tiba-tiba ada masuk pesan yang bisa mengganggu konsentrasi.


Namun, wabah datang dan merubah banyak hal, termasuk kebiasaan membaca sehari-hari.  Sejak pandemi, saya lebih sering di rumah dan nyaris tak pernah lagi membeli buku di toko.  Kalau ingin buku baru, biasanya pesan saja melalui toko online, praktis dan harganya pun lebih murah.


Hingga kemudian saya mendapat beberapa e-book yang hampir semua gratis.  Bermula dari sering ikutan webinar, saya mulai berkenalan dengan e-book, yang kebanyakan dibagi dalam bentuk PDF.  Awalnya, ada satu webinar yang semua peserta disarankan masuk grup medsos, supaya bisa berbagi informasi kegiatan selanjutnya.  Eh, ternyata admin grup bermurah hati dan memberi beberapa e-book untuk peserta.  Boleh juga, nih, untuk koleksi, begitu pikiran saya.  


E-book seperti jadi fenomena di masa pandemi.  Dari grup medsos lain, ada juga teman yang rajin membagikan e-book, mulai dari majalah, buku fiksi, hingga non fiksi. Saking seringnya dibagi, banyak e-book yang belum sempat dibaca. Membacanya bisa ditunda dulu, yang penting dikumpulkan saja dengan gembira.


Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama karena kemudian saya mendengar tentang e-book dan hak karya cipta.  Apakah mengunduh e-book tidak menyalahi undang-undang yang berlaku?



E-Book dan Undang-Undang Hak Karya Cipta

Secara ringkas, hak karya cipta didefinisikan sebagai izin tertulis yang diberikan oleh pemegang hak karya cipta, kepada pihak lain yang ditunjuk untuk mempublikasikan karyanya.  Hasil dari karya cipta itu adalah bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan.


Atas pemberian izin tersebut, pemegang hak karya cipta mendapatkan royalti yang dibayarkan oleh pihak yang mempublikasikannya.  Besaran royalti itu tergantung dari kesepakatan antara kedua belah pihak.

Indonesia sudah punya undang-undang yang mengatur tentang hak karya cipta, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.  Menurut Undang-undang ini, penggandaan atau memperbanyak buku, termasuk mengunduh e-book, tanpa sepengetahuan penulisnya, adalah illegal.


Mengapa illegal, padahal banyak membaca bisa membuat orang lebih pandai?


Berikut adalah uraian mengapa memperbanyak e-book disebut pelanggaran hak karya cipta :

  • Publikasi dan penggandaan e-book dibuat tanpa izin dari penciptanya.  
Kejadian ini cenderung terjadi karena masyarakat ingin mendapatkan buku atau karya tulis dengan cepat dan mudah, namun sebenarnya salah. Ada pihak yang dirugikan, yaitu penciptanya, karena mereka tidak memperoleh yang jadi haknya, yaitu royalti.

  • Pelanggaran hak karya cipta berarti tidak menghargai budaya kerja, jerih payah, serta ide kreatif orang lain.
Pencipta e-book atau penulis menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bahkan mungkin biaya, untuk membuat sebuah buku.  Namun, ketika dipublikasikan, ada yang menggandakan secara sepihak tanpa royalti.  Jerih payah pencipta jadi sia-sia karena tidak dihargai.

  • Kecerdasan dan kreativitas adalah salah satu usaha untuk memenangkan persaingan di tingkat global, terutama era pasar bebas. 
Kurang penghargaan terhadap hak karya cipta, membuat budaya kreatif bangsa tidak berkembang. Sebagian para penggiat kreatif jadi enggan berkarya, karena usaha mereka dipandang sebelah mata.  Ide-ide baru jarang muncul di negara kita. Jika terjadi demikian, kita akan kalah bersaing dari bangsa lain yang sudah menghargai hak karya cipta.  Selanjutnya, kita hanya jadi konsumen untuk pasar asing (Korea, Amerika, Eropa) seperti sekarang.


Jika mengunduh e-book tanpa izin adalah illegal, terus gimana kalau melalui grup whatsapp tiba-tiba kita diberikan e-book? Sebaiknya, cukup berhenti sampai di gadget kita saja, tak perlu lagi diteruskan ke orang lain. Kecuali e-booknya memang boleh disebarluaskan karena sudah ada izin penulisnya. 


Di masa pandemi sekarang, penyebaran e-book illegal ikut membuat industri penerbitan buku konvensional jadi terpuruk.  Setelah keadaan memburuk akibat penurunan penjualan, pelanggaran karena penggandaan buku-buku banyak ditemukan di pasaran (market place).


Berikut adalah datanya :



Sumber : ikapi.org/riset/



Tapi, rumit juga ya, mendapatkan e-book legal. Padahal kita pingin yang mudah dan praktis, kalau perlu gratis.  


Sebenarnya, asal rajin mencari, sekarang sudah banyak e-book legal beredar. Dari pengalaman saya sendiri, media ini umumnya diperoleh melalui :

  • Perpustakaan Digital
Sudah muncul beberapa aplikasi perpustakaan yang bisa diunduh. Banyak pilihan buku di sini, hanya saja peminjam harus ikut peraturan yang berlaku. Ada batas waktu peminjaman dan kadang bersabar mengantri meminjam buku bersama pengguna lain.

  • Aplikasi gratis
Saya baru dapat informasi tentang beberapa situs e-book legal.dan illegal.  Dari situs legal, bolehlah dicoba mengunduh buku-buku yang diinginkan.



Sumber : Jurnal Ilmiah Living Law e-ISSN 2550-1208 
Volume 12 Nomor 2, Juli 2020


  • Mengunduh dari website resmi perusahaan atau penerbit 
Saya pernah mendapatkan e-book dari perusahaan start-up ternama, yang mereka tawarkan melalui akun medsosnya.  Isi e-book tersebut berkaitan dengan misi visi perusahaan, seperti tehnik dan strategi bisnis, hingga pencapaian yang sudah diperoleh perusahaan setahun terakhir. E-book tersebut ditawarkan gratis pada setiap netizen yang tertarik. Mungkin mereka sekalian promosi, ya.


Pernah juga ada penerbit yang memberikan e-book gratis berupa kumpulan cerita fiksi. E-book tersebut adalah karya dari beberapa penulis lepas yang jadi anggota komunitas yang diselenggarakan penerbit. Atas seizin semua penulisnya, e-book itu boleh di-download oleh siapa saja yang tertarik

  • Benefit dari lomba kepenulisan
Lomba kepenulisan umumnya memberikan benefit e-book untuk semua peserta, baik menang atau kalah, setelah memenuhi biaya administrasi sebagai syarat keikutsertaan.  


E-book yang diberi berisikan tentang materi kepenulisan, trik-trik menulis yang baik dan benar, hingga kumpulan tulisan karya para pemenang.  Nah, jenis e-book yang terakhir ini sangat menarik, karena kita bisa belajar dari karya terpilih. Dengan membaca tulisan terbaik, kita bisa memperbaiki tulisan sendiri, agar kelak bisa memperoleh hasil maksimal.


Di era digital ini, e-book legal sudah banyak beredar, tinggal rajin saja mencarinya, apakah mau yang gratis atau berbayar supaya tidak ada pihak dirugikan.  Ketika pembaca senang menelusuri e-book, penulis pun ikut gembira karena telah mendapatkan haknya.

Kelebihan dan Kekurangan E-book

Setelah lama saya membaca buku konvensional, kemudian beralih ke e-book saat pandemi, mulailah kelihatan perbedaan antara kedua jenis media ini. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihannya.


Kelebihan e-book, adalah :

1. Tidak membutuhkan lemari penyimpanan.
Untuk menyimpan buku konvensional, diperlukan lemari buku. Semakin banyak buku kita,  semakin besar lemari yang harus tersedia.  Kalau rumah luas, tak masalah punya banyak lemari, tapi bagaimana kalau luas ruangan terbatas? Tempat penyimpanan buku bisa jadi problem. 

Jika mau diberikan pada orang lain, dijual kembali, atau dibuang, rasanya sayang sekali karena sudah dibeli mahal.  Kalau dibiarkan berserakan, buku-bukunya malah terlantar berdebu.


Jika menggunakan e-book, tak perlu lagi lemari penyimpan buku, sebab semua sudah tersimpan otomatis di gadget. Koleksi buku  aman tak berserakan di rumah, karena ada perangkat yang menggantikan lemari buku.


2. Tidak mudah rusak

E-book tidak mudah rusak, robek, atau menggembung karena terendam air.  Asalkan gadgetnya dijaga, e-book yang tersimpan di dalamnya tetap aman. Beda dengan buku konvensional.


Saya punya pengalaman buruk berkaitan dengan buku konvensional.  Beberapa tahun lalu, rumah kami mau direnovasi dan harus membongkar atap. Agar aman dari hujan, buku-buku yang disimpan di lemari yang terbuat dari serbuk gergaji, dipindahkan ke ruangan lain.


Namun, naas tak bisa ditolak.  Hujan deras turun hari itu dan ternyata airnya tempias ke dalam ruangan tersebut.  Lemari serbuk kayu terguyur hujan, kemudian menggembung serta ikut merusak buku di dalamnya.


Buku yang terkena air hujan jadi lembab dan sudah tak bisa dibaca lagi.  Kalau dijemur, kertasnya lekat dan robek jika dibuka paksa. Akhirnya, daripada menumpuk tak bisa lagi digunakan, buku-buku itu dijual murah ke tukang loak, karena penjual buku bekas enggan menerima buku rusak.  Sayang juga, buku yang seharusnya bisa jadi koleksi, hanya laku jadi bahan kertas daur ulang.




3.  Mudah dibawa
Banyak jenis e-book yang bisa disimpan di gadget, sesuai dengan kapasitas memori yang tersedia. E-book tersebut mudah dibawa bepergian, beda dengan buku konvensional yang punya tempat terbatas, disesuaikan dengan tingkat ketebalannya.  


Jadi, kalau mau aman berwisata membawa buku, tanpa kuatir kelebihan beban, e-book adalah pilihan tepat.


4. Bebas ongkir
Nah, ini terjadi ketika kita mau beli buku yang belum ada di toko buku. Artinya, buku tersebut belum masuk ke penerbit besar, alias dijual secara indie ataupun diperdagangkan langsung oleh penulisnya.


Membeli e-book tidak perlu lagi ongkir, karena dikirim langsung secara virtual.  Beda dengan buku konvensional yang memerlukan biaya, kecuali pembelian melalui toko online yang bebas ongkir.


Masalahnya, belum semua penulis mau membuat e-book. Kebanyakan masih mengandalkan buku konvensional untuk dijual pada pembacanya.  Alasannya mereka, buku konvensional masih lebih laku daripada e-book.


Saat menjelajah sosmed, saya pernah melihat seorang penulis muda sedang mempromosikan buku yang kelihatan bagus. Setelah dicek, ongkirnya cukup mahal juga karena jarak mengiriman yang jauh, yaitu antar pulau. Cuma karena pingin membacanya, akhirnya dibeli juga.  Ternyata uang saya tak sia-sia, sebab bukunya cukup bagus



E-book mudah diperoleh, serta bisa dibaca kapan dan di mana saja. Namun, ada juga kekurangan media ini, yaitu :


1. Tidak bisa disimpan jadi kenangan.
Buku konvensional wujudnya nyata secara fisik dan bisa disimpan untuk anak cucu.  Buku cetak boleh disentuh, disampul, hingga dipajang sebagai koleksi. Juga bisa dibuat sebagai kenang-kenangan, misalnya buku suvenir dari suatu acara.


Beda dengan e-book yang hanya tersimpan di perangkat dan tidak bisa disentuh. E-book hanya mengikuti bentuk gadget, serta cuma bisa dilihat oleh pemiliknya, atau orang lain yang punya akses ke gadget tersebut.


Namun, masa depan siapa yang tahu, kemajuan teknologi sulit ditebak. Mungkin suatu saat nanti, akan muncul lemari digital yang bisa menyimpan semua koleksi e-book penting. Kemudian, banyak orang boleh melihat-lihat isinya. Ya, hari esok memang penuh kejutan.


2. Sulit mendapat tanda tangan dari penulis buku melalui e-book
Keseruan membeli buku langsung dari penulisnya adalah bisa dapat tanda tangan, sekaligus kata-kata mutiara.  Senang sekali ada coretan dari mereka. Walaupun nggak ketemu langsung, tapi bisa dapat tanda perkenalan.


Kalau dari e-book mustahil dapat tanda tangan dari para penulis.  Memang sekarang sudah ada tanda tangan digital, tapi sepertinya lebih seru dapat tanda tangan langsung dari pena.  Kelihatan corak tintanya dan mungkin kalau diteliti, sidik jari pengarangnya masih tertinggal di lembaran kertas.  Hihihi.


3.  Belum semua penulis mau membuat e-book
Kalau buku-buku dari penerbit mayor, biasanya sudah punya e-book dari toko digital mereka.  Namun, penulis dari penerbit indie dan self publisher, masih banyak yang belum membuat e-book. Bahkan ada yang menolak dan tetap bertahan di buku konvensional.  Alasannya, pasaran e-book belum ramai peminat.


4. Lama membaca e-book bisa membuat mata pedih
Kelamaan melihat layar gagdet membuat mata cepat lelah dan pedih.  Apalagi kalau layarnya kecil seperti ponsel, karena tidak semua orang punya tablet atau laptop.


Kalau memang harus membaca melalui gadget, ada cara agar mata tetap nyaman, yaitu tehnik membaca 20 - 20 - 20.  Arti dari tehnik ini ialah, setiap 20 menit membaca di gadget, alihkan pandangan mata selama 20 detik ke lokasi sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter), agar mata bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan tugasnya lagi.


Jika mau lebih aman, ada perangkat canggih yang membuat mata nyaman selama membaca e-book, yaitu ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).  Salah satu kelebihan gadget ini adalah sudah menggunakan layar ASUS OLED, yang berfungsi menjaga kesehatan mata untuk jangka panjang.


Selain layarnya yang ramah mata, apa lagi keunggulan ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)?


Ayo, kita bahas bersama.


ASUS dan Inovasi


Saya mulai mengenal ASUS pertama kali sejak tahun 2008, ketika melihat iklan ASUS Eee PC di salah satu surat kabar nasional. Karena tertarik untuk membelinya kelak, iklan tersebut saya potong dan disimpan sebagai kliping sampai sekarang.



Laptop ASUS EeePC dan iklan ASUS Eee PC tahun 2008


Inilah kelebihan kertas konvensional. Lembarannya bisa diambil sebagai kenang-kenangan.  Kliping senantiasa terselip rapi di antara buku-buku. Dulu saya berharap bisa membeli laptop ASUS Eee PC tersebut.  Ternyata rezeki takkan ke mana, akhirnya laptop mungil  itu terbeli juga. Mungkin karena keseringan menatap klipping iklannya, ya. 


Kemudian, saya lihat ASUS terus berinovasi. Sekarang sudah muncul seri ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) dengan fitur-fitur canggih, yang mempermudah pengguna untuk terus berkreasi dan tetap produktif.  Berikut adalah kelebihan yang dimiliki laptop ini.


ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) untuk Kreativitas tanpa Batas

Adapun alasan-alasan untuk memilih laptop ini, adalah :

1. Bodi ringan, ringkas, dan tipis
Dengan ketebalan hanya 16,9 mm dan berbobot 1,4 kg, laptop ini nyaman dibawa bepergian.  
  

Walaupun mungil, bukan berarti ketangguhan laptop Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa dipandang sebelah mata. Daya tahan terhadap situasi ekstrem sudah terbukti dengan mengantongi sertifikasi lolos uji ketahanan berstandar US Military Grade (MIL-STD 810H).  Sertifikasi ini diperoleh setelah berhasil melewati pengujian ketat, seperti tes jatuh, tes getaran, hingga tes operasional pada lingkungan ekstrem.


Untuk pengguna yang aktif bekerja di lapangan, laptop ini adalah perangkat tepat. Tahan banting, tahan benturan, namun tetap ringan, akan mempermudah pengguna yang punya mobilitas tinggi di luar ruangan.
 

Nyaman saat digunakan adalah fokus dari Zenbook 14X OLED (UX5400).  Dengan sistem 180⁰ ErgoLift Hinge, selain dapat dibuka hingga 180⁰, laptop ini juga bisa diangkat bodi utamanya.  Dengan bodi yang terangkat, pengguna jadi nyaman pada mode mengetik clamshell (engsel layar laptop bisa diputar 180).


2.  Layar nyaman untuk pengguna

Layar ASUS OLED telah memperoleh sertifikasi low blue-light dan anti-flicker dari TÜV Rheinland. Dengan demikian, layar Zenbook 14X OLED (UX5400) aman untuk kesehatan mata penggunanya dalam jangka panjang, serta nyaman saat beraktivitas karena dapat bekerja lebih lama, tanpa membuat mata lelah.


Didukung dengan fitur HDR yang tersertifikasi oleh VESA, layar ASUS OLED dapat memberikan kualitas visual terbaik, yaitu dengan mereproduksi warna yang sangat kaya dengan color gamut yang mencapai 100%, pada color space DCI-P3. Hasil tingkat akurasi warna sangat bagus dan telah memenuhi berstandar industri melalui sertifikasi PANTONE Validated Display.


Ada lagi fitur lain yang tak kalah keren dari layar Zenbook 14X OLED (UX5400), yaitu laptop tersebut mengusung rasio layar 16:10 beresolusi 2.8K (2880x1800).  Rasio 16:10 ini membuat ruang kerja menjadi lebih luas, yang memberi pengaruh langsung pada peningkatan produktivitas.  Fungsi layar juga semakin praktis dengan fitur touchsreen atau layar sentuh. 


3. Fitur ScreenPad™ 2.0 mempermudah pengguna saat beraktivitas.


Berfungsi sebagai layar kedua sekaligus touchpad, ScreenPad™ 2.0 adalah fitur yang bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas penggunanya.


ScreenPad™ 2.0 menampilkan fitur antar muka tambahan di berbagai aplikasi utama Microsoft Office. Berkat fitur ekstra ini, pengguna Zenbook 14X OLED (UX5400) bisa langsung mengakses berbagai menu di layar utama, untuk kemudian mengaktifkan berbagai fungsi di aplikasi Microsoft Office.


Contohnya, fitur Quick Key pada Zenbook 14X OLED (UX5400) membuat pengguna mampu mengakses berbagai shortcut dengan cepat dan tepat, tanpa harus menghafal kombinasi tombol di keyboard. Aktivitas  juga lebih mudah karena Quick Key bisa disesuaikan dengan aplikasi yang sedang berjalan.




4. Didukung konektivitas lengkap

Selain mudah terhubung dengan komputer dan jaringan internet, laptop yang didukung oleh konektivitas lengkap ini, lebih memungkinkan untuk dihubungkan dengan berbagai perangkat tambahan lain.  Kemudahan ini membuat pengguna lebih produktif dalam bekerja.  


Laptop Zenbook 14X OLED (UX5400) memberi pilihan konektivitas yang sangat lengkap. Untuk yang mau menggunakan kabel, hadir berbagai port seperti HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, hingga MicroSD dan 3.5mm combo audio jack, yang akan memudahkan pengguna untuk beraktivitas tanpa harus bergantung pada dongle (adapter).


Selain itu, ada dua port USB Type-C Thunderbolt™ 4 yang dimiliki oleh laptop Zenbook 14X OLED (UX5400).  Fungsi port modern ini adalah menghadirkan kecepatan transfer data yang tinggi, yaitu hingga 40Gbps, serta menghubungkan monitor tambahan dengan dukungan resolusi hingga 8K. Didukung oleh fitur USB Power Delivery, port ini mampu mengisi daya baterai melalui adapter charger maupun power bank.


Sedangkan untuk konektivitas nirkabel, WiFi 6 salah satu andalan laptop Zenbook 14X OLED (UX5400). Wifi 6 adalah jaringan yang memiliki kecepatan transfer data yang lebih tinggi dan stabil, sehingga ketika berselancar di dunia maya dengan Zenbook 14X OLED (UX5400), pengguna senantiasa terkoneksi ke internet dengan mudah dan nyaman.


5. Dibekali hardware modern
Didukung oleh tenaga 11th Gen Intel® Core™ processors, Zenbook 14X OLED (UX5400) tangguh untuk memenuhi rutinitas komputasi, serta powerful untuk multitasking agar pengguna tetap produktif bekerja. Di tengah persaingan bisnis yang kian ketat, multitasking adalah keahlian yang  bermanfaat.


Untuk mensukseskan kegiatan multitasking tersebut, Zenbook 14X OLED (UX5400) dilengkapi memori berkapasitas hingga 16 GB. Selain itu. Zenbook 14X OLED (UX5400) juga dibekali dengan penyimpanan berupa PCIe® SSD yang memiliki performa tinggi serta kapasitas ekstra puas, yaitu hingga 1 TB. Jadi, pengguna sudah aman dan tak perlu kuatir dengan kapasitas dan performa penyimpanan di Zenbook 14X OLED (UX5400).


Laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris Xᵉ Graphics.  Penulisan prosesor dan grafis Intel harus sesuai (Intel® Core™ dan Intel® Iris Xᵉ)


Sementara itu, 11th Gen Intel® Core™ processors tidak berjuang sendiri, tapi ikut ditopang oleh chip Intel® Iris Xᵉ Graphics dan juga NVIDIA® GeForce® MX450. Fungsi chip grafis ini adalah agar Zenbook 14X OLED (UX5400) mampu memenuhi kebutuhan proses grafis ekstra para content creator.


Belum puas dengan performa Zenbook 14X OLED (UX5400) yang standar dan kurang kencang? ASUS menawarkan solusi melalui fitur bernama ASUS Intelligent Performance Technology (AIPT), tersedia dengan tiga mode performa yang bisa dipilih yaitu Performance Mode, Balance Mode, serta Whisper Mode. Jika memilih Performance Mode, maka daya prosesor dapat dipacu sampai 40W untuk menghadirkan performa yang lebih kencang.




Spesifikasi Utama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

1. CPU
Intel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
2. Operating System
Windows 10 Home
3. Memory
16GB LPDDR4X
4. Storage
1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
5. Display
14" (16:10) OLED 2.8K (2880x1800) 90Hz 400nits DCI-P3:100% NanoEdge display, PANTONE Validated Display, VESA TrueBlack HDR, TÜV Rheinland eye care certified, 92% screen to body ratio
ScreenPad™ 2.0 (FHD+ (2160 x 1080) IPS-level Panel)
6. Graphics
Intel® Iris Xᵉ Graphics,
NVIDIA® GeForce® MX450, 2GB GDDR6
7. Input/Output
1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display and power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, Micro SD card reader
8. Camera
720p HD camera
9. Connectivity
Wi-Fi 6 (802.11ax) + Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
10. Audio
Built-in speaker, Built-in array microphone, harman/kardon certified
11. Battery
63WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion
12. Dimension
31.12 x 22.12 x 1.69 ~ 1.69 cm
13. Weight
1.4Kg
14. Colors
Lilac Mist, Pine Grey
15. Price
Rp23.999.000
16. Warranty
2 tahun garansi global
 

Sumber Referensi :

Arif Rahman, Efridani Lubis, Agus Surachman, 2020, Perlindungan Hak EkonomiPencipta E-Book pada Situs Buku GratisMerespon Perkembangan Hukum Informatika dan Transaksi Elektronik, oleh Program Magister Hukum, Sekolah Pascasarjana Universitas Djuanda Bogor, Jurnal Ilmiah Living Law e-ISSN 2550-1208 Volume 12 Nomor 2, Juli 2020


Komentar

Postingan Populer