Mendengar empat edukasi wisata dan budaya di tengah kebun dan areal persawahan, seperti menyimak cerita seru sekolah alam. Jika jenuh menyimak pelajaran hanya dalam kelas, maka belajar di luar ruangan menjadi pilihan menarik. Tidak ada tembok yang membatasi pandangan. Angin sepoi-sepoi mengganti kipas atau penyejuk ruangan elektrik. Badan bebas bergerak untuk beraktivitas bersama teman, tidak hanya terpaku pada bangku kelas.
Sampai sekarang kegiatan menyusuri alam hampir tidak pernah kehilangan pesona. Jika ingin berwisata sekaligus edukasi budaya, Kampung Berseri Astra (KBA) Marihat Jaya Jabu Sihol dapat menjadi pilihan. Mengunjungi Jabu Sihol, seperti healing sejenak dari keriuhan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota Pematangsiantar, hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor. Jalan menuju lokasi sudah bagus, bukan jalur darurat seperti jalanan pinggiran kota.
Karena menetap pada kita yang sama, saya tertarik untuk mengangkat cerita tentang aktivitas Jabu Sihol sebagai tempat wisata, termasuk kontribusinya pada masyarakat. Kalau bukan sesama warga kota, siapa lagi yang mempromosikan Jabu Sihol? Jangan sampai penduduk kota lain mendahului warganya sendiri.
Jabu Sihol menempati lokasi di Jalan Bahkora II, Kelurahan Marihat, Kecamatan Siantar Marimbun, Pematangsiantar, Sumatera Utara. Menuju ke lokasi, kita akan menemukan pemandangan hijau sawah menyejukkan mata. Sebagai pemisah antara jalan umum dan persawahan, mengalir irigasi di depan rumah-rumah penduduk, yang tampak seperti sungai kecil. Pinggiran irigasi sudah disemen. Banyak warga yang nongkrong di semen yang sekaligus berfungsi sebagai bangku beton.
(Sumber: Foto Milik Pribadi)
Kalau mau bersantai, sambil menyantap camilan dan pemandangan kehijauan sawah, warga perlu mengunjungi tempat ini. Sore-sore, orang-orang sering duduk di pinggiran irigasi sambil mengobrol dengan temannya. Menjelang malam, kafe-kafe dadakan bermunculan di tepi jalan rumah penduduk. Pemiliknya menunggu pengunjung yang ingin melepas lelah setelah seharian bekerja. Pasti seru menghabiskan waktu luang di sini sambil memandang senja yang perlahan turun menaungi persawahan.
Bagaimana dengan situasi KBA Marihat Jaya Jabu Sihol di tengah areal tersebut?
“Oh, di sana banyak orang barat menginap. Mereka suka jalan kaki berkeliling tempat ini.” Begitu ucapan penduduk setempat ketika saya menanyakan lokasi Jabu Sihol .
Hampir semua warga mengenal tempat ini. Letaknya memang dekat dengan persawahan, tapi tetap berada di tengah pemukiman penduduk. Jabu Sihol berdiri berdampingan dengan suasana natural yang menawarkan keheningan dan jeda sejenak bersama alam. Namun, bukan hanya ketenangan natural yang menemani pengunjung di sini, tetapi kesempatan untuk mengenal budaya Batak, kearifan lokal, serta kesempatan beradaptasi dengan warga setempat.
Jabu Sihol, Rekreasi Wisata dan Budaya Batak
Sebenarnya, Jabu Sihol merupakan penginapan bagi wisatawan yang datang ke Pematangsiantar. Bedanya, penginapan ini bukan sekadar tempat berteduh, tapi menawarkan rekreasi dan edukasi budaya Batak. Jadi, tak heran jika tamunya banyak berasal dari luar negeri, meski ada juga turis domestik. Selama tinggal di sana, Jabu Sihol mengajak tamu untuk mengenal beragam budaya, seperti menari Tortor, belajar aksara Batak, memasak hidangan Batak, yaitu lappet, mie gomak dan ombus-ombus.
(Sumber Foto dari Jabu Sihol)
Jabu Sihol memiliki semboyan “Mengalami Budaya Batak, Memberdayakan Orang Batak” (Experiencing Batak Culture, Empowering Batak People). Mengunjungi Jabu Sihol berarti mengenali dan belajar budaya Batak, langsung dari warga yang memiliki pengetahuan mumpuni tentang adat istiadatnya. Ada beragam versi pembelajaran di sini. Selain belajar di kelas untuk aksara Batak, mereka juga berpraktik langsung untuk kegiatan tertentu, seperti menari Tortor.
Daniel Aritonang, atau lebih dikenal sebagai Daniel Ompusunggu, mendirikan Jabu Sihol pada 13 Juli 2016. Awal berdirinya proyek ini karena Daniel memiliki keresahan pada generasi muda tanah Batak. Dia melihat bahwa banyak pemuda sekarang justru mulai jauh dari budaya leluhur. Mereka bisa lancar menyanyikan lagu barat, tapi tidak mengenal aksara Batak atau makna dari ukiran rumah adatnya sendiri. Budaya hanya muncul pada tertentu, seperti pesta pernikahan atau acara kematian.
Dari situlah nama Jabu Sihol muncul, artinya sebagai rumah untuk kembali mengenali identitas dan asal usul kita. Di sini merupakan tempat orang-orang yang rindu akan budaya menemukan jalan pulang. Jabu Sihol juga dapat berarti “Temukan rumah yang jauh dari rumah Anda.” Artinya, tempat ini diharapkan menjadi rumah baru bagi kita. Ketika meninggalkannya kita seperti meninggalkan rumah sendiri dan ingin kembali ke sana.
Saya sempat mempertanyakan makna dari Jabu Sihol, selain untuk mengajak generasi muda kembali mengenali akar budayanya. Jabu Sihol berarti “Rumah Rindu” dalam bahasa Batak. Mengapa di Pematangsiantar, yang notabene Tanah Batak, disematkan kata Rumah Rindu? Setahu saya kerinduan itu biasanya muncul dari perantauan, bukan di daerah asal.
Daniel menjelaskan kalau tempat ini memang lahir dari kerinduan, tapi bukan karena merantau. Dia memilih nama Jabu Sihol sebab merindukan kembali akar budaya Batak itu untuk generasi muda di tengah modernisasi. Sedangkan bagi para wisatawan luar negeri, Jabu Sihol merupakan harapan supaya turis yang pernah datang ke sana, rindu untuk kembali ke Indonesia, terutama Pematangsiantar. Bagi mereka, tempat ini memberikan pengalaman dan kesan yang terus melekat.
(Sumber Foto dari Jabu Sihol)
Pertama kali berdiri, Jabu Sihol menempati rumah di Viyata Yudha, Kelurahan Bah Sorma, Kecamatan Siantar Sitalasari. Dalam proses, ternyata kegiatan terus berkembang, sehingga Daniel memindahkannya pada Agustus 2019 ke Jl. Bahkora II sampai sekarang. Lokasi baru ini menempati tanah lebih luas yang terdiri dari beberapa sentra, yaitu edukasi, lahan berkebun atau bertani, peternakan, budidaya ikan, homestay (penginapan) dan beberapa tempat yang didedikasikan untuk memperkenalkan budaya Batak.
Daniel menetapan bangunan Viyata Yudha menjadi Jabu Sihol I, sedangkan lokasi Marihat Jaya disebut Jabu Sihol II. Sekarang hampir semua aktivitas menggunakan lokasi Jabu Sihol II. Terletak agak pinggir kota, tidak membuat tempat ini menjadi terpencil. Walaupun areal persawahan mengelilingi lokasi, perumahan penduduk cukup ramai seperti pemukiman lain.
Setelah pindah ke Jabu Sihol 2 di Marihat, bukan berarti Jabu Sihol I menjadi terbengkalai. Sekarang tempat ini kemudian menjadi lokasi galeri sejarah, termasuk menyimpan testimoni para wisatawan yang pernah singgah ke sana. Tamu-tamu dari Jabu Sihol 2 sering diajak mengunjungi Jabu Sihol 1 yang sekarang berfungsi sebagai museum pribadi. Tujuannya agar mereka dapat menambah wawasan tentang perjalanan Jabu Sihol sejak awal berdirinya.
Misi dan Visi Jabu Sihol untuk Budaya Batak
Selain memperkenalkan budaya Batak, berdirinya Jabu Sihol bukan ide tanpa misi dan visi. Setiba kembali di Pematangsiantar pada 2013, Daniel melihat potensi wisata kota ini belum dikelola maksimal, termasuk Danau Toba. Daniel telah mengunjungi banyak tempat wisata dalam dan luar negeri. Danau terbesar di Indonesia ini sangat indah dan tidak kalah dengan tempat wisata lain. Amat disayangkan masyarakat kurang maksimal mengelola dan memperkenalkan potensinya.
(Sumber Foto Milik Pribadi)
Dalam membangun tempat penginapan ini, Daniel juga memberdayakan masyarakat setempat dengan melibatkan mereka secara langsung dalam kegiatan Jabu Sihol. Jika tamu ramai berkunjung dan fasilitas Jabu Sihol tidak memadai untuk menampung mereka, maka sebagian tamu menginap dalam rumah warga. Agar kebersihan dan kenyamanan kamar sesuai dengan standar Jabu Sihol, Daniel mendampingi warga menyiapkan kamar untuk pengunjung. Kenyamanan tamu adalah satu paket penting dalam pariwisata.
Untuk visi masa depan, dengan kehadiran Jabu Sihol diharapkan masyarakat Batak mencintai budayanya sendiri. Mereka pun semakin berdaya secara ekonomi melalui pengembangan potensi wisata. Masyarakat bukan hanya memperkenalkan budaya dan pariwisata pada wisatawan dalam dan luar negeri. Sektor ini dapat dikembangkan sebagai sumber penghasilan, seperti berjualan souvenir atau makanan khas setempat, asal mampu mengelolanya dengan baik.
Dari hasil perbincangan Daniel dengan para turis asing, Daniel memperoleh wawasan dan masukan yang dibutuhkan untuk mengembangkan wisata, contohnya Danau Toba. Agar daerah ini semakin berkembang, para tamu asing menyarankan agar sumber daya manusia (SDM) di daerah wisata tersebut dapat meningkatkan kualitasnya. Selain itu, pihak pemilik fasilitas pariwisata selalu memperhatikan kebersihan di sekitar lokasi demi kenyamanan pengunjung.
Memperkenalkan Jabu Sihol hingga ke Mancanegara
Selama mendirikan Jabu Sihol, Daniel telah mengunjungi lebih kurang 10 negara untuk presentasi memperkenalkan budaya Batak. Sebentar daftar itu akan bertambah panjang. Pada 16 – 30 November 2025, komunitas Jabu Sihol akan menjejakkan tanah di Eropa, yaitu Italia, Denmark, dan Belanda. Kesempatan ini merupakan panggung bagi Aksara Batak dan Ukiran Batak untuk berbicara pada dunia. Bagi Jabu Sihol, aksara dan ukiran tradisional Batak bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas bangsa.
Perjalanan ke tiga negara tersebut merupakan langkah awal agar budaya Batak lestari tidak hanya dalam negeri, tapi sampai ke mancanegara. Daniel Tua Ompusunggu, sebagai pendiri Jabu Sihol, serta pemerhati sekaligus pelestari ukiran Batak, Jupita Sinurat, akan pembicara dalam kegiatan langka ini. Di tanah Eropa. mereka tidak hanya memamerkan budaya Batak, tapi memperkenalkan pesan yang hidup dalam setiap goresan dan lekukan ukiran. Budaya yang bernapas ini akan terus diwariskan pada generasi muda Batak.
Mereka ingin menegaskan kalau aksara dan ukiran Batak bukan sekadar peninggalan suku tertentu. Kekayaan budaya ini merupakan identitas nasional yang penting kita jaga bersama, serta menjadi kebanggaan nasional. Dunia perlu mengenalnya sebagai peninggalan peradaban yang indah. Bagi Jabu Sihol, aksara dan ukiran tradisional bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman dan kemudian dilupakan. Mereka terus memperkenalkan aksara dan ukiran ini, termasuk melintasi batas negara.
Dengan demikian, masyarakat dunia mengenal kekayaan Batak sebagai salah satu budaya universal, yaitu dalam konteks keindahan dan kebanggaan. Budaya leluhur ini akan tetap lestari di tengah arus modernisasi, terutama bagi generasi muda. Meski bisa memperkenalkannya secara digital, Jabu Sihol tetap ingin mempresentasikannya langsung pada masyarakat internasional melalui perjalanan ketiga negara Eropa tersebut.
Kontribusi KBA Marihat Jaya Jabu Sihol pada Masyarakat
Meskipun aktif mempromosikan pariwisata Danau Toba, kota Pematangsiantar, serta budaya Batak, Jabu Sihol tetap berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Sebagai bagian dari KBA, Jabu Sihol ikut menopang pilar-pilar sesuai dengan misi dan visi Astra, yaitu pendidikan, lingkungan, wirausaha, serta kesehatan.
Berikut kegiatan Jabu Sihol yang berdampingan dengan upaya pengembangan masyarakat.
Pilar Pendidikan
Anak-anak dari sekitar Jabu Sihol yang kurang mampu memperoleh bantuan berupa Beasiswa Lestari Astra dari PT Astra Internasional Tbk. Perusahaan menyalurkan beasiswa untuk anak-anak sekitar tempat binaan Astra, dalam hal ini KBA Marihat Jaya. Bantuan tersebut diharapkan mampu mengurangi beban keuangan keluarga, sehingga anak-anak mereka dapat fokus pada pendidikan untuk memperoleh hasil memuaskan.
Selain bantuan akademik, Jabu Sihol mendampingi pendidikan anak-anak setempat sesuai dengan kriterianya, yaitu persinggahan turis. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana akan mengajar anak-anak berbahasa Inggris. Kegiatan ini disebut English Fun and Creativity Class. Kelas pembelajaran tersebut merupakan kegiatan les bahasa Inggris gratis yang disediakan Jabu Sihol untuk anak-anak sekitar lokasi.
(Sumber foto Instagram @kba_marihatjayajabusihol)
Dengan belajar bersama orang asing, anak-anak dan pemuda menjadi termotivasi untuk belajar bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan tamu dari tanah seberang. Siapa tahu karena sering bertemu warga luar negeri, generasi muda ini mulai membangun impian untuk sekolah ke negara orang suatu saat nanti. Dari sekarang mereka dapat berupaya agar memperoleh kesempatan yang diimpikan.
Bukan hanya generasi belia yang berkomunikasi dengan para turis. Pihak Jabu Sihol juga mendorong tamu-tamu asing yang berkunjung untuk berinteraksi dengan warga dewasa, seperti yang sudah saya tulis di awal artikel. Beberapa tamu bahkan belajar beberapa kata dalam bahasa Batak, seperti horas (salam) atau mauliate (terimakasih). Perbincangan demikian mengajak warga berani, terbuka, dan percaya diri berkomunikasi dengan orang luar. Interaksi ini bukan hanya untuk menikmati suasana, tapi agar terjadi pertukaran budaya alami.
Selain belajar bahasa Inggris, Jabu Sihol menyiapkan program untuk pendidikan gratis bagi anak-anak di sekitar lokasi, atau home schooling. Ada dua bagian program home schooling Jabu Sihol, antara lain.
Kategori anak yang tidak sekolah atau putus sekolah.
Jabu Sihol membantu pembelajaran anak-anak putus sekolah, sehingga mereka mereka memperoleh pendidikan layaknya siswa pendidikan formal umumnya. Ada beragam penyebab anak-anak itu tidak meneruskan sekolah. Oleh sebab itu, kegiatan home schooling ini merupakan kesempatan agar mereka tidak ketinggalan pengetahuan dengan teman sebayanya yang masih menuntut ilmu di sekolah.
Kategori anak sekolah
Kategori anak bersekolah artinya mereka berkeinginan untuk memiliki tambahan pengetahuan di luar dari akademis, sepertii computer class untuk mengedukasi anak tentang IPTEK. Kemudian ada pula tenis meja guna mengembangkan bakat anak-anak yang tertarik di bidang olahraga. Menarik. Selain pengetahuan bertambah dan badan sehat, mereka pun dapat bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Untuk anak yang berminat dengan kesenian, dapat mengikuti tari budaya Batak. Kegiatan ini mengajarkan dan melatih mereka yang tertarik memperdalam bidang seni tari. Jabu Sihol rutin mengadakan latihan Tari Batak di sanggar. Peserta adalah remaja setingkat SMA. Jika ada turis datang, maka anak-anak ini yang memandu para wisatawan mancanegara itu untuk menari bersama. Mereka menjadi duta Jabu Sihol memperkenalkan tari Batak pada turis.
Tim tari ini pernah tampil di Kaldera The Toba Nomadic Escape pada 20 Januari 2024, yang diselenggarakan di Desa Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Dalam acara ini, mereka menampilkan tarian dari empat suku Batak yang ada di Sumatera Utara, yaitu Toba, Karo, Pakpak, dan Simalungun. Serahkan tongkat estafet budaya pada orang muda supaya peninggalan leluhur ini tetap lestari.
Kanan : Penampilan pada Kaldera The Toba Nomadic Escape pada 20 Januari 2024
(Sumber foto Instagram @kba_marihatjayajabusihol)
Bagi Jabu Sihol, pendidikan bukan hanya melalui jalur akademik, seperti yang diajarkan di sekolah. Mengenalkan budaya leluhur pada generasi penerus merupakan pendidikan non formal yang perlu diterapkan. Rutin melatih tarian Batak di sanggar adalah salah satu program pendidikan kesenian di sini. Kesenian membuat jiwa anak-anak muda peserta lebih peka, gerakan badan lebih lentur, disamping mau menghargai warisan adat istiadat.
Pilar Wirausaha
Lokasi Jabu Sihol yang dikelilingi oleh alam, yaitu sawah dan ladang, menjadikan tempat ini kaya dengan hasil bumi. Tanah mengeluarkan hasilnya agar penduduk mampu mengelolanya menjadi sumber ekonomi. Salah satu sumber daya itu adalah singkong. Dengan komoditas ini, warga sekitar membuka usaha kripik untuk menambah penghasilan. Kripik Jabu Sihol dibuat dari singkong pilihan untuk membantu ekonomi Ibu-ibu setempat.
(Sumber foto Instagram @kba_marihatjayajabusihol)
Selain camilan kripik, Jabu Sihol juga membuat minuman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan. Produk ini dikenal dengan merek Inum for Imun yang khasiat utamanya adalah menjaga kekebalan tubuh. Minuman alami tersebut terdiri dari tiga rasa, yaitu.
Inum bunga Telang
Warnanya yang ungu sesuai dengan kelopak bunga Telang. Minuman ini berfungsi untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh karena mengandung antioksidan.
Inum Sangge-sangge (Serai)
Minuman berwarna orange lembut yang bermanfaat untuk meredakan gejala asma, menguatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan tulang dan sendi, serta menyehatkan pencernaan.
Inum Markisa
Berwarna kekuningan seperti buah markisa, minuman herbal ini mengandung vitamin C yang kaya akan antioksidan, menjaga kesehatan sendi dan tulang, menyehatkan pencernaan, serta bagus untuk mencerahkan kulit.
(Sumber foto Instagram @inumforimun)
Produk wirausaha dari Jabu Sihol mengandalkan bahan-bahan alami yang banyak tumbuh di sekitar kita. Warga dan komunitas Jabu Sihol mengolah hasil bumi ini menjadi kebutuhan sehari-hari. Mudah bagi kita menemukan tumbuhannya, hasilnya pun cocok untuk konsumsi saat senggang atau ketika berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.
Pilar Lingkungan
Dekat dengan alam bukan berarti Jabu Sihol hanya berurusan dengan tetumbuhan, tapi juga sampah rumah tangga. Pada komunitas ada tim Jabu Warriors, yaitu sukarelawan yang peduli kebersihan lingkungan. Mereka bertugas untuk mengedukasi warga agar ikut mengelola sampah menjadi produk yang bermanfaat. Kakak-kakak dari Jabu Warriors terutama mengadakan edukasi dan sosialisasi untuk anak-anak tentang pengelolaan sampah. Tim juga mengajak mereka untuk mengambil sampah di sekitar Jabu Sihol demi menjaga area tetap bersih.
Salah satu cara agar anak-anak tertarik mengumpulkan sampah, Jabu Sihol menyelenggarakan bioskop sampah untuk mereka. Penyelenggaraan bioskop sampah bertujuan untuk mendidik anak-anak agar dapat mengelola sampah dengan baik. Kegiatan ini berlangsung setiap hari Senin, di mana anak-anak akan menukarkan sampah plastik yang sudah mereka bersihkan menjadi tiket untuk menonton film yang ditayangkan di Jabu Sihol. Jadi, mereka memperoleh tiket menonton dengan membawa sampah plastik untuk kebutuhan ecobrick.
Dalam pelestarian lingkungan, kita mengenal ecobrick sebagai botol ramah lingkungan. Sistem ini merupakan metode untuk mengemas limbah plastik menjadi berguna kembali. Proses pembuatan ecobrick adalah mengisi botol dengan potongan-potongan kecil atau lembaran plastik yang tidak dapat terurai, seperti kantong plastik, wadah makanan, atau bungkus plastik yang tidak dapat didaur ulang. Kita hanya perlu memasukkan plastik ke dalam botol plastik kosong dengan padat dan kencang.
Sebelum membentuk menjadi ecobrick, warga mencuci plastik agar kotorannya hilang, menjemur sampai kering, memotong-motong sampah yang sudah bersih, serta memasukkannya ke dalam botol plastik sampai padat. Setelah botol terisi penuh dengan plastik, benda ini biasanya digunakan sebagai bahan bangunan alternatif untuk konstruksi tahan gempa, perabotan, atau dekorasi. Bentuknya lucu dan berwarna-warni. Bahan dan cara membuatnya sederhana, bahkan anak-anak pun mampu menyelesaikannya.
(Sumber foto Instagram @kba_marihatjayajabusihol)
Komunitas Jabu Sihol tidak hanya mengolah plastik. Mereka mengumpulkan sampah dari sekitar lokasi dan memilah-milahnya di antara sampah organik dan anorganik. Jika warga mengolah sampah non organik menjadi ecobrick, maka lain lagi cerita sampah organik atau yang berasal dari bahan-bahan alami. Sampah organik contohnya, seperti sisa sayuran, buah, ranting dan sisa makanan.
Untuk organik sayuran, buah, daging, ikan, serta sampah dapur lainnya, komunitas Jabu Sihol mengarahkan sisa sampah ini guna membuat maggot. Apa itu? Maggot adalah larva lalat yang berwarna putih atau krem yang aktif bergerak, serta ditemukan pada bahan organik membusuk. Meski dianggap hama, mereka bermanfaat dalam penguraian limbah. Pembuatan maggot dapat mengurangi bau busuk dan menyengat dari sampah organik. Kuantitas sampah pun berkurang, bahkan dapat dikatakan proses produksi tanpa menghasilkan limbah.
Proses mengubah sampah organik menjadi nilai ekonomi membutuhkan maggot BSF (Black Soldier Fly). Maggot BSF merupakan pilihan cocok untuk menguraikan sampah organik. Serangga ini banyak berkeliaran di sekitar kita. Terkadang mungkin kita geli melihatnya. Padahal, hewan ini bermanfaat untuk lingkungan karena mampu mengurai sampah organik menjadi maggot. Selain mengurangi pencemaran sampah, maggot ini juga diperjualbelikan sebagai alternatif pakan ternak, yaitu unggas dan ikan, termasuk umpan pancing.
Jenis sampah organik lain seperti ranting, sisa tanaman, dan bahan-bahan biologis lainnya, diubah menjadi kompos melalui proses pengomposan. Ampas tetumbuhan ini dibiarkan membusuk untuk kemudian menjadi pupuk bagi tanaman yang masih hidup. Teksturnya alami, bebas bahan kimia, sehingga baik untuk kesuburan tanah jangka panjang. Pupuk ini bermanfaat untuk lingkungan yang berkelanjutan di sekitar Jabu Sihol, apalagi sekarang komunitas menanam banyak pepohonan, seperti durian, rambutan, dan bunga telang.
Tantangan yang Dihadapi Jabu Sihol
Mendengar kisah Jabu Sihol yang sekarang mulai mendapatkan perhatian masyarakat, mungkin kita berpikir kalau tantangannya minim dan aktivitasnya lancar saja. Padahal, ada beragam tantangan yang pernah menghadang Jabu Sihol, mulai saat mendirikannya sampai sekarang.
Ditentang dan Diusir Keluarga
Melihat aktivitas Jabu Sihol, awalnya saya berpikir keluarga Daniel tentu bangga memiliki generasi penerus yang masih peduli dengan budaya leluhur. Ketika batas global semakin tipis, maka negara seperti tanpa batas. Informasi mudah tersebar, termasuk budaya bangsa lain. Orang-orang muda sekarang lebih tertarik menyimak lagu atau kesenian dari negeri seberang, daripada milik bangsa sendiri. Sosok Daniel adalah pengecualian.
Tetapi, asumsi tersebut ternyata salah. Ketika Daniel kembali ke Pematangsiantar dari Pulau Jawa pada tahun 2013, tujuannya saat itu adalah menemani orang tua yang sedang sakit. Rencananya berjalan lancar karena sebelum pindah, Daniel telah memperoleh pekerjaan pada salah satu bank swasta di kota ke-2 terbesar di Sumatera Utara ini setelah Medan.
Sayangnya, Daniel hanya bertahan 3 tahun pada pekerjaan tersebut. Dia mengundurkan diri pada 2016, yang kemudian menjadi titik awal berdirinya Jabu Sihol. Orang tua, terutama Ayah, menentang keputusan tersebut. Alasannya, pekerjaan di bank dianggap lebih stabil dengan masa depan yang aman dan terjamin. Sementara pilihan untuk mengembangkan Jabu Sihol masih berisiko dan penuh ketidakpastian.
Marah dengan keputusan anaknya, beliau mengusir Daniel dari rumah. Sebenarnya, Ayah bangga dengan pekerjaan di bank dan kecewa dengan keputusan puteranya melepaskan pekerjaan tersebut. Namun, Daniel tetap teguh pada pendiriannya. Meski sedih, pada titik balik ini Daniel belajar tentang arti keyakinan dan panggilan hati. Walaupun keluarga menolak bahkan mengusirnya, upaya membangun impian terus berlanjut.
Keteguhan dan keyakinan Daniel telah menunjukkan hasilnya. Perlahan-lahan, melalui proses panjang dan penuh perjuangan, Jabu Sihol mulai tumbuh. Kini, di usia yang hampir sepuluh tahun, Jabu Sihol bukan hanya berdiri, tetapi juga memberkati banyak orang. Beragam testimoni datang dari tamu dan komunitas yang merasa tertolong, terinspirasi, atau bahkan menemukan kembali makna hidup dan budaya mereka melalui Jabu Sihol.
(Sumber foto Instagram @kba_marihatjayajabusihol)
Kisah penolakan yang menjadi tonggak awal berdirinya Jabu Sihol, merupakan pengalaman yang paling kuat melekat padanya. Tetapi, hari ini cerita tersebut telah menjadi kisah masa lampau. Sekarang alurnya sudah berbeda. Pada akun medsos, Daniel kerap memposting foto kebersamaan dengan keluarga besar, termasuk sang Ayah di lokasi Jabu Sihol.
Pengalaman lain yang sangat berkesan saat mengelola Jabu Sihol adalah bagaimana perjalanan ini mempertemukan Daniel dengan pasangan hidup, yaitu istri terkasih Jupita Sinurat. Mereka memiliki visi dan semangat yang sama. Kini keduanya berjalan beriringan, mengusahakan agar Jabu Sihol terus hidup, berkembang, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Keterbatasan Dana
Daniel membangun Jabu Sihol dengan mengandalkan biaya dari kantong sendiri. Dia mengetahui banyak perbaikan yang perlu ditangani pada Jabu Sihol, agar tempat ini semakin layak dan nyaman bagi wisatawan. Oleh karena keterbatasan biaya, perbaikan tersebut dikerjakan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Tantangan penting berikutnya dalam mengelola Jabu Sihol adalah menjaga keseimbangan ideal antara budaya dan kenyataan ekonomi. Kadang Daniel harus mencari cara agar kegiatan budaya tetap berjalan, walaupun tanpa sponsor. Komunitas perlu memikirkan cara bagaimana kegiatan budaya ini menarik bagi generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital. Hal ini penting karena Jabu Sihol mempunyai misi melestarikan budaya Batak melalui konsep dan kegiatan yang kreatif, edukatif, dan relevan dengan generasi masa kini.
Opini Publik
Ada pendapat umum yang mengatakan kalau membangun lokasi wisata dan budaya itu instan atau langsung booming. Daniel kurang setuju dengan opini tersebut. Banyak yang tidak memahami kalau membangun destinasi wisata tidak bisa instan. Selain dana, pembangunan tempat wisata perlu jangka waktu yang panjang, butuh kesabaran, daya tahan, tangguh, serta pengorbanan. Demikian pula dengan Jabu Sihol. Sampai sekarang pengembangannya masih terus berproses agar ke depan bisa lebih baik.
Untuk mengatasi tantangan ini sebenarnya perlu membangun kesadaran bahwa melestarikan budaya bukan tugas satu orang atau satu komunitas, tapi tanggung jawab bersama. Kedekatan Jabu Sihol dan masyarakat yang sudah terjalin, diharapkan dapat membangun kesadaran budaya dan kebanggaan lokal. Hal ini merupakan fondasi bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di budaya Batak. Memperkenalkan budaya Batak, bahkan hingga mancanegara bukan hanya tugas pribadi, tapi tanggung jawab bersama.
Benang Merah Jabu Sihol : Budaya, Sustainability, dan Pemberdayaan
Melihat akun media sosial Jabu Sihol banyak kegiatan menarik di sana. Komunitas bukan hanya mengajak turis asing menari atau belajar aksara Batak, tapi mereka pun diajak bermain pecah piring, salah satu permainan tradisional kita. Di era digital, permainan seperti ini sudah jarang kita praktekkan, justru orang asing yang melakoninya.
(Sumber Foto Milik Pribadi)
Ada lagi kegiatan menangkap ikan, memasak camilan Batak, menanam pohon, hingga memandikan kerbau. Kegiatan yang mungkin sudah tidak kita lirik lagi, malah mampu menjadi magnet bagi wisatawan luar negeri. Ketika berkunjung ke sana, kita juga bisa melihat para turis pria membersihkan halaman penginapan. Sementara turis wanita ikut membersihkan peralatan di dapur umum. Jabu Sihol sudah seperti rumah sendiri untuk para pengunjung. Mereka turut menjaga kebersihannya.
Selain menerima tamu dari dalam dan luar negeri, Jabu Sihol sering menjadi tempat pembelajaran outdoor bagi siswa-siswi SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa dari Pematangsiantar, Medan, dan sekitarnya. Anak-anak ini mempelajari aksara Batak, ukiran Batak, belajar tarian tor-tor, membuat ecobrick, memasak camilan tradisional Batak, seperti lappet, hingga bermain games bersama. Mereka datang rombongan, bahkan ada sekolah yang mampir berulang. Jabu Sihol memang menjadi rumah rindu bagi orang-orang yang pernah singgah ke sana.
Daniel telah memprogram agar homestay atau penginapan di sini bukan sekadar tempat berteduh, tapi komunikasi lintas budaya. Orang-orang yang menginap sudah merasa seperti di rumah sendiri, meski berasal dari negeri seberang dengan budaya berbeda. Mereka merasa nyaman berbaur dengan budaya baru yang mungkin belum pernah mereka temukan selama ini. Pihak Jabu Sihol pun berpikiran terbuka karena menerima masukan dan ide dari tamu seluruh dunia, selama sesuai dengan misi dan visi.
Jika tertarik melihat kegiatan Jabu Sihol, bisa memantau media sosial mereka. Atau kalau ingin menghubungi langsung, tersedia kontak berikut di bawah ini.
Instagram :
Facebook :
YouTube :
Tiktok :
Alamat : Jl. Bahkora II, Marihat Jaya, Kec. Siantar Marimbun, Pematangsiantar
Email : siholjabu@gmail.com
Telepon : 0821-8174-7271
Selain menerima tamu domestik maupun mancanegara, komunitas Jabu Sihol yang bersinergi dengan masyarakat sekitarnya rutin membangun lingkungan mereka. Sekali dalam sebulan diadakan reuni dengan masyarakat setempat guna membicarakan bagaimana mereka bisa bersama-sama meningkatkan perbaikan wilayah dan masyarakat. Salah satu kerjasama dengan warga adalah menyelenggarakan kegiatan bermanfaat untuk anak, seperti kelas gratis atau bioskop sampah yang sudah diulas di atas. Jika anak senang, maka orang tua pun tenang.
Kegiatan di Jabu Sihol memang saling terhubung. Turis asing belajar budaya dan kebiasaan masyarakat Batak langsung dengan orang-orang yang sudah paham dengan kulturnya. Mereka juga diajak bersosialisasi dengan masyarakat setempat, belajar bahasa dengan anak-anak, serta menjaga kelestarian lingkungan dengan ikut menanam pohon atau agro activity. Komunitas pun turut memberdayakan masyarakat melalui pengolahan sampah, pendidikan, hingga kesempatan wirausaha kripik singkong. Jabu Sihol bergerak atas benang merah: budaya, sustainability , dan pemberdayaan.
Harapan Jabu Sihol untuk Budaya Leluhur
Jabu Sihol merupakan kesempatan lintas budaya antara masyarakat dengan turis asing, seperti kegiatan English Fun and Creativity Class, serta komunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Di sini pelatihan aksara Batak dan tortor dipadukan dengan kegiatan belajar bahasa Inggris. Tujuannya adalah anak muda Batak bisa berinteraksi dengan tamu mancanegara dan menjadi duta budaya di tanah sendiri. Meski dulu Daniel memulainya dengan modal nekad dan ketulusan, komunitas ini terus berkembang menjadi pertemuan antar budaya.
Daniel ingin suatu hari nanti, Jabu Sihol mampu menjadi ambassador (duta), tidak hanya dari Sumatera Utara, tapi juga secara nasional. Artinya, ketika ada orang luar negeri bertanya pada teman-temannya, kamu dari mana? Maka temannya menjawab dari Jabu Sihol. Ketika mendengar jawaban itu, orang yang bertanya langsung tahu kalau tempat itu ada di Sumatera Utara, Indonesia. Suatu saat, nama Jabu Sihol semakin menyebar dan dikenal luas sebagai ikon budaya Indonesia.
Dia juga berharap kelak Jabu Sihol tersebar di seluruh wilayah tanah air, bukan hanya di di Pematangsiantar yang mengusung budaya Batak. Daerah lain dapat menjadi lokasi Jabu Sihol selanjutnya dengan membawa budaya warga setempat. Misalnya, Jabu Sihol Toba yang mengusung adat sekitar tanah Toba. Atau di tempat yang agak jauh, Bali contohnya, dimana Jabu Sihol dibangun demi memperkenalkan budaya Bali. Komunitas ini mampu mempromosikan beragam budaya nusantara.
Untuk saat ini, promosi Jabu Sihol terutama dilakukan dari mulut ke mulut, yaitu rekomendasi dari teman atau komunitas turis asing yang sudah pernah berkunjung. Mereka dapat membagikan cerita pengalaman otentik selama berada di Jabu Sihol. Kisah keseruan aktivitas turis saat menginap, dapat menjadi daya tarik bagi teman-teman mereka di negeri seberang untuk ikut berkunjung ke sini.
Selain mengandalkan promosi langsung, pihak Jabu Sihol juga aktif di media sosial, seperti Instagram, untuk menunjukkan bahwa budaya Batak itu hidup, indah, dan bisa dinikmati siapa pun. Beragam aktivitas Jabu Sihol telah terekam dalam dunia digital. Mulai dari tarian, kuliner, hingga filosofi hidup, merupakan pengalaman menarik yang dapat dibagikan pada kerabat dan teman-temannya di negara asal.
Jabu Sihol tidak menjual “wisata budaya”, tapi mengundang orang untuk mengalami kehidupan Batak itu sendiri. Suasana alam, ornamen, ukiran lukisan Batak di sekitar lokasi memperkuat kesan budaya lokal, termasuk kegiatan yang dipraktikkan turis bersama komunitas Jabu Sihol. Budaya Batak menawarkan pengalaman menarik, termasuk literasi dan hidangannya. Komunitas senang jika cerita ini bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk mencintai budaya mereka sendiri.
Belajar dari Daniel Ompusunggu selama mengelola KBA Marihat Jaya Jabu Sihol, sebenarnya tidak sulit menawarkan kearifan lokal setempat menjadi edukasi wisata dan budaya. Mengajak turis asing memotong rambut di barbershop, memandikan kerbau, menangkap ikan di kolam, memasak lapet, mie gomak, ombus-ombus, serta menanam padi, merupakan hal baru bagi wisatawan, terutama dari luar negeri. Di sana belum tentu ada kegiatan demikian.
No environment, no culture, no tourisme. Tampilkan saja apa yang sudah ada pada lingkungan kita. Budaya Batak itu sebenarnya keren, unik, dan mempunyai karakter, hanya saja perlu dikemas dengan cara menarik. Tawarkan keunikan kita dengan pelayanan terbaik untuk kenyamanan wisatawan, agar semakin banyak mereka yang singgah. Setiap budaya mempunyai identitas khas dan berbeda dengan daerah lain. Keindahan ini seperti mutiara yang dicari oleh orang-orang dari seluruh dunia, terutama yang hobi menemukan pengalaman baru.
Sekarang sudah sekitar 35 negara yang pernah berkunjung ke Jabu Sihol. Ada ribuan wisatawan dalam dan luar negeri telah menginjak kaki di sini. Daniel terus memperkenalkan Jabu Sihol ke mancanegara. Meskipun sudah hampir sepuluh tahun berdiri, ini masih merupakan langkah awal membawa Jabu Sihol ke komunitas global lebih luas. Kita tunggu kejutan selanjutnya yang membawa #kabarbaiksatuindonesia.
Referensi :
- Kunjungan langsung ke KBA Marihat Jaya Jabu Sihol, Jl. Bahkora II, Kelurahan Marihat, Kecamatan Siantar Marimbun, Pematangsiantar, Sumatera Utara.
- Komunikasi melalui aplikasi WA dan dokumen PDF dari Bapak Daniel Aritonang, pendiri Jabu Sihol.
- Foto-foto dikutip dari koleksi pribadi, dokumentasi Jabu Sihol, akun Instagram KBA Marihat Jaya Jabu Sihol dan Inum for Imun.
- Gambar diedit oleh Canva
- Daniel Ompusunggu, Perkenalkan Budaya Batak hingga Ke-10 Negara. Penulis Arifin Al Alamu. Tayang : Senin, 01 Apr 2019, pukul 14:00 WIB. https://sumut.idntimes.com/news/sumatera-utara/daniel-ompusunggu-perkenalkan-budaya-batak-hingga-ke-10-negara-00-hz1ln-n62sds
- Akun Instagram @kba_marihatjayajabusihol
- Akun YouTube
- Jabu Sihol Bawa Aksara dan Ukiran Batak Mendunia: Misi Budaya Menggetarkan Hati ke Eropa 2025. Tayang : Senin, 3 November 2025. https://neracanews.com/jabu-sihol-bawa-aksara-dan-ukiran-batak-mendunia-misi-budaya-menggetarkan-hati-ke-eropa-2025/
- Jabu Sihol Bawa Aksara dan Ukiran Batak Mendunia: Misi Budaya Menggetarkan Hati ke Eropa 2025. Tayang : Senin, 3 November 2023. https://auraindonesia.id/jabu-sihol-bawa-aksara-dan-ukiran-batak-mendunia/
- Jabu Sihol, Proyek Mengenal dan Belajar Budaya Batak. Tayang : Jumat 05/06/2020. https://www.piramida.id/jabu-sihol-proyek-mengenal-dan-belajar-budaya-batak/
- Rumah Singgah Jabu Sihol, Magnet Baru Edukasi Tentang Batak. Penulis: Tommy Simatupang. Tayang: Senin, 15 Juli 2019, pukul 16:25 WIB. https://medan.tribunnews.com/2019/07/15/rumah-singgah-jabu-sihol-magnet-baru-edukasi-tentang-batak
- Pulang ke Kampung Halaman, Daniel Ompusunggu Dirikan Rumah Singgah 'Jabu Sihol'. Tayang : Senin, 1 April 2019 18:22 WIB. Penulis : Tommy Simatupang. https://medan.tribunnews.com/2019/04/01/pulang-ke-kampung-halaman-daniel-ompusunggu-dirikan-rumah-singgah-jabu-sihol
- Akun YouTube Trisna. Daniel Ompusunggu : Homestay Jabu Sihol di Siantar, Sudah Dikunjungi Turis 35 Negara. https://youtu.be/dRqpRRBHDgs?si=NdpZo1yPFcX4Du_g













Tidak ada komentar