Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Kisah Setangkup Roti Tawar Melintasi Zaman




Sebagai penganan sejuta umat yang universal, roti mudah ditemukan di berbagai gerai makanan. Mulai dari kios-kios hingga supermarket tersedia cemilan lezat ini. Praktis dan tahan basi untuk beberapa hari, kudapan ini sering dibawa sebagai bekal.  Teksturnya tidak mudah hancur selama tidak terjepit benda-benda padat.


"Anak sekarang kalau melihat roti, biasa saja. Berbeda dengan kami dulu. Melihat roti mata kami langsung bulat. Soalnya, jarang-jarang ketemu jenis makanan ini. Kami cuma mampu makan roti sumbu alias singkong." Begitu cerita dari salah seorang guru saya di masa sekolah.


Ibu guru ini berasal dari generasi baby boomers dan pernah melewati kondisi serba terbatas di Indonesia pasca kemerdekaan. Konon, pada masa itu roti pernah menjadi simbol status sosial di masyarakat.  Hanya orang-orang dengan kelas ekonomi tertentu yang sanggup membelinya. Kelas lain cukup cuci mata saja menatap tampilannya yang lembut kecoklatan.


Ah, ibu guru terlalu berlebihan.  Roti sumbu juga enak, kok.  Asalkan diolah oleh tangan yang pas, sajian menggiurkan dari singkong langsung terhidang di meja.  Mulai dari getuk, gorengan, tape, donat, bolu, pukis, semua siap sedia. Nggak ada yang rumit di tangan seorang ahli.


Atau mungkin maksud si ibu, mengolah singkong dulu agak susah. Tepung dan minyak goreng sulit ditemukan. Apalagi oven atau kukusan yang digunakan untuk memasak. Berarti solusinya singkong harus direbus.  Kemudian, jadilah roti sumbu putih bersih dengan tali yang menjulur saat disantap. Yummy.


Yuk, kembali ke roti.


Situasi di atas berbeda dengan sekarang ketika penjual roti bertebaran di berbagai lokasi. Memilihnya pun bebas,  tergantung isi kantong calon pembeli. Ada harga, ada rupa. Sediakan uang, roti terhidang.  Bervariasi bentuk, isi, tekstur, sudah tersedia di etalase. Penampilannya memanjakan mata sekaligus menggugah selera. Kreasi-kreasi baru selalu muncul untuk pelanggan.



Namun, ada satu jenis roti yang tak luntur tergilas waktu, yaitu roti tawar.


Roti Tawar, di antara Cemilan dan Sarapan

Roti berbentuk bujur sangkar ini identik dengan tampilannya yang putih, lembut, dan pipih.  Pinggirannya kecoklatan dengan tekstur keras. Ketika dikunyah, rasa tawar menyesap dalam mulut dan cepat mengenyangkan perut. Kerap digunakan sebagai sarapan karena roti ini praktis disantap di pagi hari yang sibuk.


Walaupun praktis, tapi belum tentu cocok pada semua orang.


Dulu, Ibu saya sering menyediakan nasi dan lauk untuk sarapan sebelum sekolah.  Nasi putih mengepul menjadi santapan wajib pagi hari. Dengan menyantap bulir-bulirnya, lambung lumayan penuh selama pelajaran hingga waktu istirahat pertama. Sarapan pukul enam tahan menyangga perut sampai sekitar pukul sepuluh pagi. 


Hingga suatu hari saya punya pilihan sendiri selain nasi.


Gara-gara mendengar cerita teman yang selalu sarapan dengan roti, saya pun ingin ikut sarapan dengan makanan yang sama.  Penasaran, gimana rasanya sarapan roti pagi hari.  Istilahnya, nggak mau ketingglan tren. Pada masa itu ternyata roti tawar pun bisa menjadi tren.


Esok hari, sengaja saya memilih tak menyantap nasi, tapi cukup setangkup roti tawar supaya sama dengan kawan-kawan. Memang sarapan jadi cepat dan praktis nggak pakai ribet. Hemat waktu lagi, plus hati senang karena bisa cepat berangkat sekolah.


Akan tetapi, kesenangan cuma bertahan sebentar. Sarapan roti tawar sama sekali tidak menolong selama di sekolah. Saya kelaparan selama jam pelajaran awal.


Pencernaan setiap individu punya daya tahan berbeda. Oke untuk orang lain, belum tentu pas untuk saya.  




Sarapan roti jam enam pagi membuat lambung mulai keroncongan sekitar jam delapan. Konsentrasi pada pelajaran yang dipaparkan guru langsung buyar akibat sejengkal perut yang menuntut perhatian. Pikiran sudah melayang pada berbagai jenis cemilan di kantin. Menyesal juga tadi menolak sepiring nasi hangat. 


Belajar dengan perasaan keroncongan benar-benar menyiksa. Walaupun letaknya berjauhan, ternyata perut punya kontak langsung ke otak yang mempengaruhi kinerja belajar. 


Saya kapok sarapan dengan roti. Walaupun  langsung mengenyangkan ketika disantap, tapi roti membuat kita lekas lapar.  Mungkin orang lain cocok sarapan roti, tapi tidak untuk saya. Sejak saat itu, nasi tetap teman terbaik di pagi hari. 


Mungkin roti tawar lebih pas untuk cemilan. Menunggu jam makan utama bolehlah mengganjal perut dulu dengan cemilan ini. Namun, menyantapnya bukan tanpa syarat. Tanpa isi, menikmati roti seperti makan gorengan tanpa sambal. 


Apa saja yang cocok untuk isi roti tawar? Umumnya orang membubuhkan mentega, berbagai jenis selai buah-buahan, hingga butiran coklat sebagai pelengkap rasa tawar.


Bukan cuma mentega atau coklat, di daerah saya roti tawar diisi dengan sarikaya.  Tahukan sarikaya?  Sejenis selai, tapi bukan terbuat dari buah srikaya. Jadi, jangan salah.  Selai srikaya bukan diolah dari buah-buahan, seperti selai strawberry. Dulu saya juga berpikir demikian.  Ternyata beda.  


Selai sarikaya diolah dari campuran tepung, santan, telur, dan gula. Warnanya agak keemasan, manis dan bisa disantap tanpa roti asalkan jangan berlebihan. Terlalu banyak pemanis bukan orangnya yang jadi manis, tapi kadar darah semakin manis.  


Buah srikaya juga berasa manis, tapi lebih sering dijadikan jus. Bentuknya kehijauan dengan kulit seperti bersisik. Belum pernah ada srikaya yang diolah jadi bahan tambahan roti. Buahnya memang bisa dimakan, tapi bukan untuk campuran roti.






Selain aneka selai, ada satu lagi isian roti tawar yang juga hits, yaitu mentega putih. Permukaan roti dioles dengan mentega putih yang kemudian ditaburi butiran coklat. Lebih nikmat lagi, keju pun ikut ditambahkan sebagai penambah sensasi rasa. Enak sekali. Kalau saya makan yang model begini, porsinya bisa bertambah terus. Lumer di mulut, manis coklat dan asin keju berpadu jadi satu.


Sampai satu hari saya tahu kalau dalam makanan ini gula, lemak, dan kalori ikut berpesta pora. Pelan-pelan saya mengurangi porsinya. Dengan postur tubuh yang kurus, ada yang bilang makanan ini cocok untuk saya. Roti isi pas untuk menggemukkan badan. 


Cuma, nggak usahlah sering-sering menyantapnya. Efek samping makanan olahan baru ketahuan nanti. Hari ini melahap tanpa henti, belakangan hari baru menyesal. Karena waktu tak bisa diputar, maka dari sekarang belajarlah menahan selera untuk makan berlebihan.


Roti Tawar Dulu dan Sekarang

Pernah nggak dulu berkunjung ke rumah orang sambil membawa roti tawar mentega atau selai? Saat itu, oleh-oleh demikian sudah pas dibawa bertamu. Nggak malu-maluin.  Tapi, kalau sekarang?


"Ih, masa cuma bawa roti tawar.  Apa nggak ada yang lain? Pelit amat." Begitu komentar yang orang-orang terdekat jika melihat suguhan roti tawar dibawa sebagai oleh-oleh.


Ya, nggak heranlah. Sekarang di toko-toko kue bermunculan beragam jenis roti dengan tampilan memikat. Ada yang  bundar, segitiga, hingga berbentuk panda tersedia di etalase. Rasanya pun beragam dengan isi yang juga variatif, seperti coklat, blueberry, kismis dan sejenisnya.


Roti tawar sudah jarang dibawa sebagai oleh-oleh. Mungkin karena terkesan jadoel. Walaupun demikian, penganan ini tetap tersedia di rak-rak toko.  Fungsinya sebagai sarapan atau cemilan tak lekang oleh waktu, meskipun digempur berbagai jenis roti baru. Tetap ada peminat yang mencari makanan yang sudah melegenda tersebut.




Roti tawar bertahan dengan bentuknya yang seperti balok kayu, tapi  berinovasi dengan variasi isi. Bosan dengan rasanya yang tawar, ada beragam botol unik berisi selai, coklat, hingga bungkusan keju pipih, yang cocok sebagai pasangan makanan ini. Kalau sudah demikian, sulit menolak pesona roti tawar.


Referensi gambar :
Canva



Komentar

  1. Aku syukaaakkk bgt makan Roti mba.
    Walopun sebenernya kata dokter, aku kudu diet karbo, tapi ya gimanaaaa yha. 😂

    BalasHapus
  2. Roti tawar ini juga favorit di keluarga kami. Ditambah selai, oles mentega sama mises atau sekedar di tuangi susu kental manis sudah jadi makanan kesukaan si kecil. Tapi anakku yang paling kecil lebih suka yang tawar kupas mbak, gak tahu kenapa dia gak suka pinggirnya. Kalau ditanya bilangnya, gak suka aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya juga nggak suka pinggiran roti yang keras. Tapi kalau lunak, santap aja.

      Hapus
  3. Sejarah roti di negara kita menarik juga ya Mbak. Setuju bahwa dulu roti memang dianggap makanan orang-orang berada. Tapi sekarang Alhamdulillah roti sudah mulai rata dinikmati semua. Roti tawar bisa dikatakan roti wajib di rumah kami. Dipanggang, lalu dioles selai, disuir-suir dan digoreng dengan telur, hingga dimakan langsung dicelup susu adalah beberapa alternatif menikmati roti tawar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang dari anak SD sampai kakek nenek bisa beli roti, Mbak. Harganya sudah terjangkau dan bisa jadi pengganti karbohidrat.

      Hapus
  4. Roti tawar ini sudah jadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari ya mbak
    Aku setiap pagi sering menyajikan roti tawar untuk sarapan

    BalasHapus
  5. Menarik ya cerita tentang roti tawarnya. Anak-anak saya juga penggemar roti, salah satunya roti tawar yang biasanya dipanggang sebagai bekal ke sekolah. Tapi kalau sarapan saya wajibkan nasi agar tidak lapar ketika belajar pagi di sekolah, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak saya dulu, Mbak, nggak sanggup makan roti aja. Hahaha.

      Hapus
  6. Apalagi kalau roti tawar dikasi mentega+meses atau roti tawar dikasi kental manis coklat, tak lekang oleh waktu. Dari dulu tetep enak dari zaman kecil sampe sekarang dewasa dan beranak hihi

    BalasHapus
  7. Roti tawar jadi salah satu pilihan kalau anak lagi mode malas makan nasi mba. Bosen yang itu-itu saja. Apalagi praktis mau dikreasi apa aja

    BalasHapus
  8. Mbak bener deh, zaman dulu bawa roti tawar Dan sekaleng skm sudah cocok Untuk membesuk teman yang sakit. Kalau sekarang ya pasti nggak cocok lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga dulu membesuk orang cuma membawa roti tawar. Kalau sekarang? Nanti kita dibilang pelit. Wkwkwk.

      Hapus
  9. Roti tawar ini sudah menjadi bagian kehidupan di masyarakat sebagai menu sarapan pagi ya kak, saya juga suka tapi ga ada pinggirannya tambah selai makin enak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak. Pinggirannya yang agak keras kurang pas dikunyah bagi saya juga.

      Hapus
  10. Roti menu paling rekomen bagi ku saat pagi hari. Masya Allah

    BalasHapus
  11. Bener deh, dulu roti tawar kayak mewah banget ngga sih pas aku SD kalau dijengukin sama orang selalu dibawain roti tawar dan itu udah menyenangkan buat sekeluarga. Sekarang dimasak dengan berbagai macam variasi jadi lebih enaak juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang roti tawar kesannya agak jadoel ya, Mbak. Di toko roti sudah banyak jenis baru dengan tampilan dan rasa bervariasi.

      Hapus
  12. srikaya apa sarikaya Mbak? haha. aku sih bilangnya selai sarikaya. Sekarang roti udah bisa dikreasikan macam-macam, dari manis hingga asin ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, srikaya kayaknya nama buah. Sarikaya baru selai. Thanks sama informasinya, Mbak. Manusia gak pernah lepas dari kesalahan. ;)

      Hapus
  13. Sejak kenal pertama kali, roti tawar diisi dengan srikaya yang dulu dijual dalam wadah gelas. Gelasnya jadi koleksi buat minum di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibarat beli satu dapat dua, Mbak. Beli selai, dapat bonus gelas.

      Hapus
  14. roti tawar nih favorit, bisa disantap dengan aneka isian dan bisa dimodifikasi menjadi apapun, bisa puding bahkan kue tradisional seperti nagasari

    BalasHapus
  15. MashaAllah~
    Aku dulu sampai bosan makan roti. Karena kami tinggal di pedalaman dan selalu stok roti di rumah dengan harapan kami tidak kelaparan. Alhamdulillah~
    Kalau roti bosan, ibu selalu memasakkan dalam bentuk berbeda, seperti jadi bubur roti, pudding roti, pokoknya bentuk lain yang nikmat.

    Sampai sekarang, aku selalu stok roti dan mencontoh dari Ibuku agar anak-anak ayem dirumah. Gak suka jajan yang aneh-aneh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Roti tawar masuk dalam kenangan masa lalu ya, Mbak. Ide bagus untuk diceritakan di blog. Jarang-jarang ada yang yang punya pengalaman menarik selama tinggal di pedalaman bersama roti tawar.

      Hapus
  16. Anak keduaku suka banget roti tawar, malah jadi cemilan dia mbak, jadi tiap hari pasti nyati roti tawar untuk dicemil, tanpa meses atau toping lainnya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang enak kok jadi cemilan, Mbak, apalagi topping nya bervariasi.

      Hapus
  17. Favorit banget makan roti tawar pakai selai srikaya, entah enak banget selai srikaya tuh. Ters roti tawar lebih fleksibel sih mau dipake ke makanan asin atau manis, bisa dibakar, jadiin sandwich, mau manis2 pun bisaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer