Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Selain Mencegah Sembelit, Ternyata Ada Manfaat Serat Makanan yang Jarang Dibahas




Makanan lezat umumnya identik dengan tidak sehat, demikian pula sebaliknya.  Untuk sebagian orang, makanan itu yang penting enak dan kenyang dulu, sehat urusan nanti.  Apalagi kalau sudah tersaji hidangan favorit, sehat atau tidak, berserat atau tidak, bisa diabaikan saja,


Makanan sehat berserat seperti sayuran sering diabaikan orang, termasuk saya sendiri. Dulu sayur-mayur tak pernah lolos ke dalam daftar makanan favorit.  Kalau buah-buahan, bolehlah, karena  rasanya manis dan pas di lidah. Beda dengan sayuran yang tetap hambar, walaupun sudah dibubuhi garam. Bagi saya sayur tidak enak meskipun dimasak dengan berbagai resep.


Tapi, itu dulu, sebab kemudian ada kejadian yang merubah sudut pandang saya tentang makanan berserat.  


Ketika masih usia remaja, makanan favorit saya adalah nasi dan berbagai jenis hidangan protein, seperti daging dan ikan. Sayuran tak pernah masuk menu, sedangkan buah-buahan hanya dimakan kalau kebetulan ada di rumah.


Karena masih muda dan merasa sehat, saya jadi sepele menjaga makanan serta melahap saja apa yang enak.  Soal gizi, kesehatan, apalagi berserat, nanti dulu. Makan itu yang penting enak dan memenuhi perut.


Hingga suatu hari saya kena batunya.


Ceritanya dimulai dari masakan ayam yang dibeli pada suatu acara, saya lupa apa nama resepnya, yang benar-benar gurih. Saya memakan dua potong ayam lengkap dengan nasi setinggi Gunung Sinabung. Itu saja, tanpa sayur dan buah.


Akibatnya sesuatu terjadi. Selama empat hari saya mengalami sembelit yang benar-benar membuat tak nyaman. Siapa yang sudah pernah berhari-hari susah ke belakang, mungkin paham maksudnya. Karena sudah tak tertahankan lagi, akhirnya ortu membawa ke dokter. Seperti biasa, dokter memberi obat untuk dikonsumsi.


Selesai sembelitnya?  Oh, tidak juga!  Obat hampir habis, tapi sembelit belum tuntas. Dengan sangat kuatir saya kembali lagi ke dokter dengan pikiran yang mulai tidak tenang. Gimana nanti kalau terus-menerus begini?


Keluhan ini saya sampaikan ke dokter. Mendengar keluhan itu, dokternya tenang-tenang saja sambil menjawab.  "Masalah biasa, cuma kurang serat."


Antara makanan berserat dan junk food


Jawaban singkat itu membuka ingatan saya tentang kebiasaan buruk sejak dulu.  Dari kecil saya kurang suka sayuran, karena rasanya aneh, seperti kesat-kesat di lidah.  Melihat sayuran, selera makan saya bisa langsung hilang. Daripada nggak selera, mendingan jangan dimakan.


Akibatnya sekarang jadi begini, sembelit dan perut rasanya penuh.


Namun, daripada capek bolak-balik ke dokter, saya memilih merubah diri sendiri dulu. Nggak mungkin kita memperoleh hasil baik, kalau tak ada kebiasaan buruk yang perlu diubah. maka perubahannya dimulai dari pola konsumsi. Supaya cepat sembuh, bukan hanya obat yang perlu dikonsumsi, tapi juga makanan berserat.


Akhirnya, saya mau makan hidangan sayur-sayuran. Walau awalnya  benar-benar nggak enak karena seperti ada yang sangkut di leher, tapi dipaksakan. Kalau susah ditelan, sayuran itu saya dorong dengan minum air putih supaya bisa lancar ke perut. Saya pikir, lebih baik menggunakan cara begini daripada dimuntahkan. 


Tak cukup dengan sayuran, buah-buahan pun ditambah porsinya, terutama pepaya. Kalau ini sebenarnya tak jadi masalah, karena dari dulu saya memang suka mengkonsumsinya.  Cuma, kalau nggak ada di rumah, malas saja mencarinya ke luar. Namun dalam situasi begini, buah-buahan harus tetap disediakan.


Berkat kedua jenis makanan tersebut, sembelitnya pun bisa teratasi. Lega sekali. Sampai sekarang pengalaman tersebut masih membekas dan jadi pelajaran penting. Sejak kejadian ini pula saya mulai rutin mengkonsumsi sayuran. Perubahan dimulai secepatnya. Jangan menunggu sampai bermasalah lagi baru merubah kebiasaan.


Selera makan ternyata diubah karena dijadikan rutinitas. Sekarang sudah terbiasa makan sayur dan tak perlu lagi didorong dengan air putih.  Sayuran tak sekesat dulu lagi, terutama jika dilahap dengan lauk pauk yang tersedia.



Manfaat Lain dari Makanan Berserat 


Kalau mendengar manfaat dari makanan berserat, yang terlintas di pikiran kita umumnya adalah memperlancar pencernaan, terutama mencegah sembelit. Pencernaan yang bebas masalah membuat kekebalan tubuh semakin meningkat, sehingga kita kita bisa terhindar dari berbagai penyakit, seperti kanker usus besar, diabetes, hingga jantung.





Serat makanan memproduksi bakteri baik yang mencegah pertumbuhan bakteri jahat


Walaupun penting untuk melawan penyakit, namun di Indonesia masih banyak masyarakat yang kekurangan serat.  Penyebabnya adalah karena makanan cepat saji berlemak lebih sering dicari daripada yang berserat. Selain lebih praktis, makanan cepat saji dianggap lebih enak meski gizinya kurang memadai.


Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) dari Kementerian Kesehatan tahun 2018, sebanyak 95,5% penduduk Indonesia kekurangan serat.  Artinya masyarakat belum memenuhi asupan ideal, yaitu mereka hanya mengkonsumsi serat sekitar 27% dari kebutuhan, atau 8 gr dari 30 gr anjuran per hari.


Sumber : Rikesdas


Padahal, makanan berserat bukan hanya berfungsi untuk memperlancar pencernaan, tapi juga punya manfaat lain terutama di masa sulit seperti sekarang. Saat pandemi yang rentan membuat orang cemas, kuatir, hingga stres, makanan berserat memberi faedah, yaitu :


1. Menetralkan hormon kartisol 

Hormon kartisol muncul ketika kita stres. Walaupun dikenal sebagai hormon stres, namun dalam batas normal kartisol sebenarnya memiliki manfaat untuk kesehatan. Hormon ini berfungsi mengubah gula darah menjadi energi yang kita gunakan untuk beraktivitas. Juga bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah hingga siklus tidur.


Namun, hormon kartisol yang tak terkendali dapat memicu diabetes. Untuk mencegah hal tersebut, maka perlu mengkonsumsi makanan berserat agar kelebihan hormon ini bisa dinetralkan.


Sayuran dan buah yang tepat untuk mengendalikan hormon kartisol adalah pisang, brokoli, bayam, kacang-kacangan, alpukat, berbagai jenis biji-bijian, serta gandum utuh. Makanan ini banyak mengandung magnesium yang memberi perasaan tenang pada tubuh dan pikiran.


Magnesium berkait dengan fungsi otak serta membuat suasana hati jadi lebih baik, hingga bisa membantu mengurangi depresi serta kecemasan. Zat mineral ini juga merangsang produksi hormon endorfin yang membuat orang lebih bahagia, hingga bisa terhindar dari stres.



2. Menjaga kesehatan mental
Kesehatan mental dapat dijaga dengan asupan vitamin B yang cukup.  Zat ini banyak ditemukan pada berbagai jenis makanan berserat, seperti sayuran hijau, kacang polong, pisang, dan akar bit. Makanan tersebut mempoduksi hormon bahagia, yaitu mengatur kadar serotonin dan dopamin pada otak.  


Serotonin berkaitan dengan perasaan menyenangkan, ketajaman memori, serta meningkatkan selera mengkonsumsi makanan. Sedangkan dopamin membantu suasana hati agar tenang untuk tidur atau beristirahat, mengatur konsentrasi belajar, pencernaan, juga ikut memelihara sistem memori.


Kedua hormon bahagia ini berfungsi menjaga kesehatan mental serta mengendalikan suasana hati. Makanan sehat dan gizi seimbang bisa  mengatur kadar dopamin dan serotonin agar berada pada level normal. Rutin mengkonsumsi sayuran dan buah yang disebut di atas adalah salah satu cara menjaga agar suasana hati tetap terkendali, hingga mampu terhindar dari stres.


3. Menyehatkan tubuh dan menghindari berbagai penyakit

Serat makanan juga membantu meningkatkan kekebalan dengan cara memproduksi bakteri baik. Dalam usus manusia, terdapat bakteri baik yang berfungsi memelihara daya tahan, maupun bakteri jahat yang bisa mengganggu kesehatan tubuh. 


Bakteri baik mencegah agar bakteri jahat tidak berkembang biak, serta ikut membantu pencernaan, dengan cara memecah serat makanan menjadi asam yang merangsang sel-sel imun. Dengan demikian, tubuh akan memiliki kekebalan terhadap beragam penyakit kronis, hingga melawan infeksi virus.






Makanan berserat mempunyai banyak fungsi dari sekedar mencegah sembelit.  Serat-serat pentingnya membersihkan usus kita dari bakteri jahat yang bisa mengganggu kesehatan untuk jangka panjang.  Mengkonsumsi makanan jenis ini adalah investasi jangka panjang untuk fisik yang bugar.


Tidak hanya secara fisik, mental juga terpelihara melalui konsumsi makanan berserat.  Hormon-hormon bahagia diproduksi oleh beberapa jenis buah dan sayuran, hingga membuat pikiran tenang, termasuk mampu beristirahat secara teratur, hingga bisa terhindar dari kelelahan dan stres.


Sebenarnya, tidak rumit menjaga kesehatan fisik dan mental, apalagi di masa seperti sekarang. Perbanyaklah konsumsi sayuran dan buah-buahan segar, serta kurangi makanan olahan. Dengan demikian tubuh kita memiliki daya tahan prima terhadap virus dan berbagai penyakit, juga pikiran tetap tenang dalam situasi yang serba tidak pasti.





Referensi :

1. 5 Makanan Sehat untuk Bantu Menghilangkan Stres, https://health.kompas.com/read/2021/12/03/120100168/5-makanan-sehat-untuk-bantu-menghilangkan-stres?page=all, 3 Desember 2021.

2. Serba-serbi Prebiotik, Serat Unik yang Jadi Makanan Bakteri Usus, https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/manfaat-prebiotik/

3. Selamat Tinggal Depresi, https://www.halodoc.com/artikel/selamat-tinggal-depresi, 21 Mei 2018.

Komentar

Postingan Populer