Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Asam Manis Generasi Strawberry


Gambar diedit oleh Canva


Suka dengan strawberry?  Buah mungil berwarna merah berbintik ini cukup populer.  Bentuk unik dan warnanya menonjol di antara keluarga berry lain. Saking populer, tampilannya sering dijadikan hiasan pada benda tertentu, seperti gantungan kunci, mainan, bantal hingga motif pakaian anak-anak.


Kata orang, strawberry rasanya manis.  Tapi menurut saya, itu nggak sepenuhnya benar.  Beberapa kali mencicipi strawberry, lebih banyak ketemu yang asam manis,  jarang dapat yang manis betulan. Beruntung kalau ketemu strawberry yang benar-benar ramah di lidah. Sebaliknya, jika terkecap rasa asam, mata jadi mengerjap-ngejap menahan pahit.


Sekarang strawberry tidak hanya menyangkut cerita tentang buah-buahan cantik. Benda tersebut juga dikaitkan dengan karakter anak-anak zaman now. Arti strawberry di sini adalah generasi yang mudah mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan, secara cepat, instan, tanpa perlu bersusah payah. Namun, bukan kolektif semua orang muda berkarakter demikian, karena tergantung pada pola asuh orang tua. 


Ilustrasinya begini. Kalau Aladdin punya lampu istimewa dengan jin yang bisa mengabulkan semua keinginan, maka generasi strawberry juga mampu membuat keajaiban.  Mereka memiliki jari telunjuk ajaib dan orang tua yang langsung mengabulkan semua permintaannya.  Tinggal tunjuk benda favorit di toko dan kemudian bisa dibawa pulang. Saat itu juga.


Terus, apa hubungannya dengan strawberry?


Daging strawberry bentuknya lunak sekali.  Saat tergores, tersenggol, apalagi dipijak, langsung hancur tanpa ampun.  Buahnya juga tak tahan disimpan lama. Dulu pernah beberapa kali beli strawberry yang dipacking di supermarket, hasilnya kecewa berat.  Kalau dilihat dari luar kemasan yang  plastik bening, strawberry merah ranum ini benar-benar menggoda.  Tapi, ketika sampai di rumah dan kemasannya dibuka, pada lapisan bawah yang tertutup tisu, ada yang sudah busuk bahkan putih berjamur.


Jarang ketemu strawberry yang benar-benar bagus.  Kadang dalam satu kemasan, lebih banyak yang busuk daripada yang layak santap.  Kalau pun ada yang mulus tanpa cacat, biasanya tidak tahan lama meskipun disimpan di kulkas.  Beberapa hari saja buahnya sudah kelihatan agak lembab.  Strawberry tanpa cela mungkin hanya didapat kalau dipetik langsung dari kebunnya, yang kebanyakan berada di luar kota yang berhawa sejuk.


Dari uraian di atas, kira-kira demikianlah sekilas karakter generasi strawberry.  Supaya lebih jelas, yuk kita bahas selanjutnya.


Awal Mula Generasi Strawberry

Generasi strawberry muncul dari pola asuh orang tua.  Terlalu sayang dengan anak, mereka memenuhi semua permintaan buah hatinya.  Kalau menginginkan sesuatu, anak tinggal mengucapkan saja dan tanpa keberatan keinginan itu langsung dikabulkan.  Tak masalah berapa uang keluar, atau barang-barang telah menumpuk di rumah, rengekan anak tetap dipenuhi.


Generasi ini  lahir dari keluarga yang berkecukupan, beda dengan generasi orangtuanya yang masih serba terbatas. Biasanya, asal-usul orang tua dulu berasal dari keluarga kurang mampu.  Karena pernah merasakan pahitnya jadi orang susah, mereka tidak mau anak-anak mengalami hal yang sama. Kalau di masa lampau orang tua harus menahan diri mendapat keinginannya, sang buah hati tak boleh mengalami kepedihan seperti mereka.


Gambar diedit oleh Canva


Banyak yang berpendapat generasi strawberry mayoritas datang dari keluarga berkecukupan.  Bagi mereka, uang bukan masalah.  Orang tua yang berpenghasilan besar dan super sibuk, menggantikan waktu berkualitas bersama anak dengan segepok uang.  Diharapkan dengan sejumlah uang itu, anak bisa menemukan hiburan sendiri sebagai pertukaran waktu bersama keluarga.


Kayaknya, tak selamanya benar, lho, opini di atas.  Ada kok orang kaya yang mendidik anaknya dengan baik, bisa mandiri, bahkan mampu mendirikan usaha sendiri.  Sebaliknya ada yang dari keluarga sederhana yang terlalu sayang anak hingga mau memenuhi semua permintaannya, termasuk dengan berhutang.  Ya, semua tergantung dengan sikap orang tua.  Konon, karakter anak adalah gambaran dari orang tua.  Bagaimana cara mendidik di rumah, tampak pada tingkah laku anak di pergaulan.


Ada lagi penyebab lain timbulnya generasi ini, yaitu orang tua yang ingin "membalas dendam".  Bukan, bukan balas dendam dengan anak.  Maksudnya, dulu mereka pernah menghadapi perbedaan kasih sayang dari orang tuanya.  Yap, di keluarga tersebut ada anak emas yang mendapat perlakuan istimewa dibanding dari saudara lain.  Tak berani menunjukkan sakit hati, anak yang terpinggirkan ini hanya memendam perasaan saja. Ketika dewasa dan punya anak sendiri, mereka mencurahkan kasih sayang berkelimpahan yang tak mereka dapatkan dari orangtua, pada anak sekarang.


Apapun latar belakangnya, perlakuan orang tua itu bisa mempengaruhi karakter si anak di masa depan, termasuk membentuk perilaku ala strawberry.


Pola asuh dari orang tua yang menyebabkan anak memiliki karakter generasi strawberry, yaitu :


Pertama, orang tua selalu memenuhi apa pun permintaan si anak.
Seperti yang sudah dijelaskan di awal, anak punya telunjuk ajaib setiap belanja bersama orang tuanya, misalnya saat membeli mainan.  Tinggal tunjuk, benda yang diinginkan langsung masuk keranjang dan jadi koleksi di rumah, tak jadi masalah sudah berapa banyak lemari mainan di rumah.  Akibatnya anak kurang bersyukur dan apalagi menghargai pemberian orang tua.  


Mainan-mainan tersebut hanya digunakan sebentar, kemudian dibiarkan teronggok di lemari sambil menunggu beli yang baru.  Mudah saja menggelontorkan sejumlah uang, sementara di luar sana masih banyak anak dari keluarga tak mampu yang kesulitan membeli mainan.


Kedua, orang tua tak pernah menghukum anak ketika membuat kesalahan.
Anak-anak dianggap wajar membuat kesalahan karena mereka belum mengerti.  Alasannya masih kecil, kurang paham menghadapi masalah. Jadi, biarkan saja dulu.  Toh, nanti berubah sendiri kalau sudah besar.


Jika dibiarkan anak-anak justru mengira kalau tindakan mereka baik-baik saja.  Buktinya, nggak pernah kena marah, kok. Adem ayem semua. Mereka akan terus mengulanginya karena orang tua mendiamkan.  Akhirnya, perilaku sehari-hari berubah jadi kebiasaan. Kemudian kebiasaan ini jadi karakter. Alhasil, sampai dewasa karakter mereka telah sulit berubah.


Ketiga, orang tua selalu membantu anaknya sampai pada hal terkecil.
Anak-anak tidak diajari untuk berusaha memecahkan masalahnya sendiri.  Semua dikerjakan oleh orang tua, mulai dari pe-er, mengikat tali sepatu, hingga memperbaiki mainan. Anak tak pernah belajar bagaimana mencari solusi.  Mereka hanya diam menunggu orang tua datang dan memberi bantuan hingga selesai.


Asyik juga ya, hanya duduk tenang dan masalah tuntas sendiri.


Ciri-ciri Generasi Strawberry

Pola asuh biasanya terlihat ketika anak-anak bertemu dengan orang-orang di luaran.  Karena selalu dimanja di rumah, mereka membawa karakter tersebut dalam pergaulan.


Gambar diedit oleh Canva


Kira-kira gimana ciri-ciri mereka?


Pertama, kurang motivasi untuk berusaha memecahkan masalah.
Generasi strawberry sering dapat bantuan, jadi punya daya juang lemah.  Bagaimana tidak, setiap ada permasalahan orang tua lebih sering turun tangan.  Anak-anak ini hanya melihat saja dan menunggu sampai problemnya diselesaikan. 


Sebenarnya, tak selalu salah kalau orang tua membantu memecahkan masalah.  Mungkin anaknya belum berpengalaman hingga perlu uluran bantuan dari mereka.  Kalau dikerjakan sendiri, hasilnya bisa kacau, jadi sebaiknya diajari dulu.


Yang menjadi masalah adalah kalau anak tidak pernah belajar.  Mereka bisa memperhatikan cara orang tua menangani masalah, kemudian mencoba mempraktekkan sendiri, jika lain kali menghadapi masalah yang sama. Namun, mereka malas belajar dari pengalaman terdahulu. Akibatnya, setiap ada peristiwa yang sama, lagi-lagi orang tua yang mencari solusi.  Mereka hanya mau terima hasil tanpa perlu bersusah payah.


Kedua, manja
Hampir semua keinginan mereka terpenuhi dengan mudah.  Apa saja yang diminta, orang tua tanpa ragu mengabulkannya. Kalau tak dipenuhi, mereka bisa marah, ngamuk, menangis sejadi-jadinya.  Tak apa jadi perhatian orang, asalkan keinginan terpenuhi.


Ada orang tua yang tak tega melihat anaknya mengamuk karena permintaannya tak dipenuhi.  Daripada ribut, lebih baik mengabulkan keinginan buah hati.  Akhirnya, peristiwa yang sama sering berulang dan jadi kebiasaan.


Ketiga, malas dan sulit mengatasi tekanan
Sama seperti buah strawberry yang lunak, generasi ini punya mental lemah.  Sedikit saja ada tantangan mereka takut, langsung merasa tidak mampu, dan lebih memilih mencari jalan aman.


Kalau masih kanak-kanak, bolehlah mereka merasa takut. Ke kamar mandi malam-malam sendirian, anak-anak masih banyak yang takut. Tapi, gimana kalau sudah dewasa langsung menyerah menghadapi tantangan?  Ada kan yang seperti itu.  Cari yang aman saja, daripada berlelah-lelah apalagi hasilnya belum pasti.  Sebenarnya itu hak mereka untuk memilih.  Cuma, sayang kan, kalau ada kesempatan berlalu begitu saja karena malas mencoba.


Keempat, merasa menjadi perhatian seluruh dunia
Biasa mendapat limpahan kasih sayang di rumah, generasi strawberry berpikir kalau orang lain di luar harus ikut memperhatikan mereka.  Apabila mendapat penolakan, mereka bisa marah tanpa mempertanyakan alasannya. Padahal,  orang lain menolak permintaan mereka bisa karena ada beragam alasan. Bukannya ditanyakan baik-baik, generasi strawberry langsung kesal dan memaksa agar keinginan segera dipenuhi.


Jadi, karakter yang menonjol dari generasi ini adalah manja, egois, dan arogan.


Karakter Positif dari Generasi Strawberry

Generasi strawberry kelihatan menyebalkan karena hanya menuntut tanpa mau berusaha. Mereka tak mau mengkoreksi diri dan  menyalahkan orang lain pada setiap masalah yang dihadapi.


Tapi, apakah generasi strawberry selalu buruk dan tak ada kesempatan untuk berubah?  Nggaklah. Ada kok karakter positif dari generasi ini.  


Gambar diedit oleh Canva


Apa saja dampak positif yang dibawa  generasi strawberry?


Pertama, berani beropini.
Orang-orang yang ngamuk di depan umum sebenarnya tipe karakter yang mau mengutarakan ide mereka di depan orang banyak.  Tidak semua orang berani beropini di daerah umum. Lebih banyak yang sembunyi daripada disuruh berbicara di area publik.


Kalau dididik serta pola pikirnya diubah agar tidak arogan dan egois lagi, siapa tahu mereka bisa jadi pembicara yang baik.  Latih saja public speaking dan berikan ide-ide menarik, mungkin mereka bisa jadi motivator yang menginspirasi orang lain. Motivasi pertama, apalagi kalau bukan pengalamannya saat mengubah karakter generasi strawberry jadi pribadi yang menyenangkan.


Kedua, punya sumber dana cukup
Orang tua mereka tidak segan merogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi permintaan.  Kenapa tidak mencoba memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan? Zaman sekarang sedang tren dunia digital dengan gadget terbaru.  Berikan saja ponsel mutahir dan ajar mereka jadi content creator, daripada uangnya habis tak jelas hutan rimbanya membeli benda lain. Siapa tahu kelak mereka bisa jadi youtuber sukses.


Ketiga, anak bisa dididik agar mau berbagi.
Generasi strawberry biasanya punya benda-benda berlebihan di rumah, misalnya mainan yang menumpuk di lemari dan sudah bosan dilihat.  Coba diskusikan sama anak, apakah mau menyumbangkan mainan tersebut ke panti asuhan? Daripada menumpuk berdebu di rumah, padahal di luar ada anak yang tak memiliki mainan.


Mungkin ada yang kurang setuju menyumbangkan barang bekas ke panti asuhan. Kenapa tak sekaligus barang baru saja?  Hmm ... selama mainan itu masih layak pakai, tidak salah kalau diberikan. Daripada dibuang ke tong sampah, lebih mubazir lagi. Walaupun bekas tapi ada yang menginginkannya dan siapa tahu bisa membuat orang lain bahagia.


Masa Depan Anak di Tangan Orang Tua

Memang mudah saja mengatakan kalau orang tua jangan terlalu memanjakan anak. Alasannya, kurang baik mengabulkan semua keinginan, karena bisa membuat anak-anak jadi besar kepala, serta merasa dirinya adalah superior di antara orang lain.  Tapi, apa orang tua setuju opini demikian?


Salah kalau orang tua menunjukkan kasih sayang dengan membelikan semua keinginan anak?


Kalau diingat-ingat kejadian masa kecil, sebagai anak kita kesal kalau orang tua  pelit memberikan mainan.  Untuk apa mereka cari uang jika membelikan mainan saja ogah.  Uang kok disimpan terus?  Kita anak-anak mereka dianggap apa?  Lebih pentingkah banyak uang daripada melihat anak senang?  Kenapa tak dibelanjakan saja, dengan begitu sekeluarga bisa bergembira.


Cuma mau bilang saja, segala sesuatu yang berlebihan kurang baik juga. Buah dan sayur yang katanya bagus untuk kesehatan, kalau dimakan kebanyakan bisa buat diare. Olahraga jangan keterlaluan, apalagi sampai letih, konon bisa mengganggu jantung.  Tidur kelamaan juga tak bagus karena tubuh jadi kurang pergerakan.


Orangtua adalah sosok yang paling dekat dan tahu kebutuhan anaknya. Mereka mengerti kapan boleh mengabulkan permintaan, kapan pula bisa mengabaikan keinginan berlebihan. Papa Mama adalah sosok yang paling dekat dengan buah hati dan paham perkembangan kejiwaannya.  


Apapun yang orang tua tanam pada hari ini, kelak mereka juga yang akan memetik hasilnya pada karakter anak-anak.  


Jadi, bijaksanalah bersama keluarga.



Sumber Referensi :
1. Strawberry Generation : 5 Ways Parents Can Avoid Raising Entitled Brats, https://theasianparent.com
2. 8 Signs that you are part of the weak strawberry generation - Goody Feed, https://goodyfeed.com


Komentar

Postingan Populer