Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Dampak Perburuan Biawak terhadap Habitat Ular Kobra



Siang itu, saya sedang menunggu bus di dekat rumah. Situasi lalu-lintas cukup ramai.  Kendaraan bermotor hingga orang berjalan kaki, silih berganti berseliweran di hari  terik.


Lokasi rumah saya terletak di pinggir kota, dikelilingi oleh sungai yang banyak tumbuh pepohonan dan semak-semak.  Pagi hari udara di sini cukup sejuk. Sejauh mata memandang masih tampak kehijauan yang menyejukkan mata.


Tiba-tiba dari dekat tempat saya berdiri terdengar jeritan ibu-ibu.  Beberapa orang berlari menjauh.  Saya yang penasaran, justru datang mendekat ke arah sumber keributan. Ternyata dari dalam selokan, muncul seekor biawak sepanjang tangan orang dewasa. Badannya gemuk, namun gerak-geriknya tampak kebingungan melihat orang ramai.


Karena geli, saya pun ikut menjauh. Tak ada yang berani mengusir hewan berwarna keabu-abuan itu. Hingga tiba-tiba datanglah dua orang pria bersepeda motor.  Pria yang duduk di boncengan belakang turun dan menangkap ekor belakang biawak. Kemudian ... plak! Dia membanting kepala binatang itu ke batu. Biawak langsung pingsan dengan liur yang menetes dari mulutnya.



Saya hanya bisa memandangi kedua pria itu pergi sambil membawa biawak yang sudah lemas.  Seorang Ibu yang ikut melihat peristiwa itu mengatakan, kalau daging biawak enak dimakan. Saya hanya mengangguk mendengarnya, karena baru tahu sekarang.

Hingga suatu hari saya membaca dari medsos perlindungan hewan, kalau pendapat itu ternyata bisa membawa bahaya.


Habitat Biawak

Saat masih kanak-kanak, orang tua sering membawa saya ke kebun binatang. Di sanalah pertama kali mengenal biawak dan hewan melata ini terkesan galak, serta suka menyerang orang. Wajahnya tampak ganas dengan kulit tebal seperti anti gores. Bentuk tubuhnya juga menakutkan persis buaya kecil. Dulu rumah saya di pemukinan padat yang jauh dari sungai, hingga biawak hanya bisa dilihat di kebun binatang.

Setelah pindah dan tinggal di lokasi dekat sungai dan rawa-rawa, biawak jadi pemandangan biasa.  Sama seperti kucing liar yang sering beredar di sekitar rumah, biawak juga sering berkeliaran di pemukiman. Kalau dulu biawak terkesan garang, sekarang ketika bertemu orang di jalan, biawak justru ketakutan dan lekas bersembunyi di balik bebatuan atau semak-semak.


Gerakannya gesit sekali, berbeda dengan tubuhnya yang kelihatan berat. Ketika bertemu biawak, saya mencoba untuk memfoto atau memvideokan hewan itu. Namun, selalu kalah cepat dengan kegesitannya untuk bersembunyi.  Semakin dia bersembunyi, semakin saya penasaran.

Untuk wilayah Indonesia jenis biawak yang dikenal adalah biawak air alias Varanus salvator. Habitatnya pada daerah hutan bakau, sungai dan rawa-rawa.  Bentuknya mirip kadal, namun masih satu spesies dengan komodo.  Panjangnya sekitar 120 - 180 meter.  Biawak masih satu spesies dengan komodo.  Bedanya komodo hanya dijumpai di pulau Komodo NTT, sedangkan biawak ada di seluruh nusantara.

Hewan melata ini suka keluar dan mencari mangsa di pagi hari.  Kemudian dia kan berjemur pada sore hari. Di pemukiman yang dekat dengan sungai atau rawa, mudah menemukan biawak di selokan rumah.  Tidak heran, karena biawak adalah pemakan daging.  Tikus dan telur ular adalah mangsa yang paling dicari.  Sebab itu, selokan tempat cocok untuk biawak menemukan makanan.


Perburuan Biawak dan Pengaruhnya Terhadap Habitat Ular Kobra 

Beberapa tahun lalu, pernah ada kehebohan tentang ular kobra yang masuk ke pemukiman penduduk.  Hewan berbisa tersebut menyelinap k ke rumah, bersembunyi di lemari, bawah meja, tempat tidur, hingga sekeliling pekarangan.  


Ular kobra adalah hewan yang punya tingkat adaptasi tinggi. Mereka mudah saja berpindah tempat. Salah satu penyebab ular kobra masuk ke pemukiman adalah akibat  kerusakan habitat asli mereka.  Hutan persawahan, sungai, lahan luas adalah habitat mereka, dan tempat demikian sudah banyak berubah jadi pemukiman.  

Untuk bertahan hidup, ular kobra masuk ke pemukiman penduduk dan memangsa tikus.  Di tempat baru mereka menetaskan telur-telurnya. Awal musim penghujan adalah waktu terbaik telur ular menetas, karena tersedia banyak pakan untuk anakan kobra.  Sebaliknya, pada musim kemarau, makanan hanya tersedia sedikit, sehingga anakan tidak bertahan lama.

Penyebab lain penyebab berkembang biak ular kobra adalah berkurangnya salah satu predator alami mereka, yaitu biawak. Sekarang hewan yang menyerupai komodo ini banyak diburu untuk dikonsumsi dagingnya.  Peminat daging biawak adalah penggemar makanan ekstrem, hingga warga yang menganggap daging biawak bisa jadi obat.

Di tempat lain, ada biawak yang diburu karena dianggap hama dan mencuri ternak warga.  Seperti kebanyakan hewan lain, habitat biawak juga mulai terdesak karena ada pemukiman.  Warga yang belum paham fungsi biawak bagi ekosistem, sering memburunya karena dianggap mengganggu.  



 Jika ada biawak, maka hewan ini akan memakan telur-telur serta anakan kobra.  Kalau jumlah biawak mulai berkurang, telur-telur ini akan menetas dan anakan berkeliaran di pemukiman warga.


Dampak Mengkonsumsi Daging Biawak

Biawak bukan daging yang lazim untuk dikonsumsi, namun penggemarnya tetap ada.  Coba saja buka aplikasi toko online, akan ditemukan penjualan daging biawak dengan berbagai sajian, mulai dari yang dijual dengan potongan dalam kemasan hingga berbentuk abon.

Ada alasan tertentu hingga biawak terus diburu dan dagingnya diolah.  Dikutip dari Share Healthy, ada dua point manfaat daging biawak untuk kesehatan, yaitu:

Pertama.  Menambah energi dan stamina.
Daging biawak kaya akan kalori seperti daging lainnya. Jika menkonsumsi 1 ons daging biawak, berarti menyerap 50 kkal.  Untuk lebih jelas lagi, sama saja dengan mengkonsumsi 1 ons ayam.  Protein yang terdapat dalam daging biawak bisa memberikan energi yang membangkitkan stamina

Untuk orang-orang yang mempunyai kegiatan fisik yang membutuhkan tenaga, daging biawak cocok untuk dikonsumsi.  Tubuh lebih bugar dan kuat mengatasi kelelahan fisik.



Kedua. Daging biawak dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Ada berbagai jenis penyakit yang mampu disembuhkan dengan mengkonsumsi daging biawak, seperti : 

  • Serangan asma, karena daging biawak mengandung asam amino yang mampu memperbaiki sistem otot-otot pernafasan.
  • Epilepsi, gangguan yang terjadi pada sistem saraf ini dapat diperbaiki dengan mengkonsumsi danging biawak secara teratur.  Protein pada daging biawak dipercaya menjaga kesehatan sistem saraf.
  • Menyembuhkan jerawat, untuk membersihkan wajah agar mulus kembali, daging biawak adalah solusinya. Rutin mengkonsumsi daging biawak juga bisa mengurangi peradangan pada kulit.
  • Mengobati penyakit kulit, yaitu dengan cara daging biawak ditiriskan kemudian dijadikan bubuk untuk kapsul.  Dipercaya bisa menyembuhkan gatal-gatal pada kulit.
  • Mencegah stroke, daging biawak yang memiliki tingkat protein tinggi, mampu menjaga pembuluh darah tetap bersih.  Stroke dan serangan jantung dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan pembuluh darah.
  • Membantu memperlancar pencernaan, lapisan lambung dapat dilindungi dari gangguan penyakit maag, melalui protein dan asam amino yang dikandung daging biawak.


Di balik manfaat yang diperoleh, daging biawak juga memberikan dampak negatif bagi kesehatan.  Daging dari hewan reptil memiliki virus, bakteri, parasit, maupun logam berat dan residu yang akan membawa masalah bagi kesehatan.

Adapun masalah kesehatan yang timbul dari mengkonsumsi daging biawak, adalah:
  • Mengandung bakteri, daging biawak rentan terkontaminasi bakteri yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, seperti Salmonella serta Escherichia Coli.  
  • Spesies cacing parasit atau yang dikenal dengan Gnathostomiasis. Bisa menyebabkan nyeri pada saraf, koma, kelumpuhan, hingga kematian.  Ciri-cirinya adalah rasa tidak nyaman pada perut, diare, mual, muntah hingga darah dalam urine.
  • Infeksi akibat parasita (larva) pentastomids, yaitu parasit yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.  Larva yang melekat pada daging biawak, kemudian melekat pada usus manusia. Pertumbuhan larva dapat menyebabkan rasa tak nyaman pada bagian perut hingga sembelit dan diare.

Apakah hanya daging biawak yang membuat kulit mulus? Untuk membuat kulit mulus, bolehlah mengkonsumsi sayur dan buah secara teratur. Selain berdampak pada kulit, sayur dan buah juga memperlancar pencernaan. Dengan pencernaan yang lancar, tubuh lebih sehat dan sistem imun lebih kuat.  

Masih banyak daging lain yang lebih layak untuk dikonsumsi daripada biawak. Manfaatnya memang ada, namun resiko buruk untuk kesehatan tetap muncul.  Daripada memakan daging biawak, mengapa tidak membuat opor ayam, rendang sapi, atau sop buntut?  Selain dagingnya lezat, mengkonsumsi hewan-hewan itu berarti tetap menjaga keberadaan biawak sebagai rantai makanan.




Untuk menjaga keseimbangan lingkungan, yuk bersama kita jaga kelestarian biawak.  Supaya kelak anak cucu kita aman dari over populasi ular kobra.


Sumber foto : Istockphoto dan Pixabay




Sumber Referensi :

  1. Ciri-Ciri, Habitat, Makanan, dan Reproduksi Biawak Air Asia, https://www.reptiljakarta.com/ciri-ciri-habitat-makanan-dan-reproduksi-biawak-air-asia/, diakses tanggal 15 Desember 2021, pukul 19.00 WIB. 
  2. Mengenal 3 Predator Alami Anakan Ular Kobra Jawa, https://www.sains.kompas.com, diakses tanggal 15 Desember 2021, pukul 20.16 WIB.
  3. 8 Manfaat daging Biawak, cari Tahu Juga Resikonya Bagi Kesehatan, https://www.orami.co.id, diakses tanggal 15 Desember 2021, pukul 20.39 WIB.
  4. Habitat Ular Kobra Java, dari Savana hingga Pekarangan, https://www.antaranews.com, diakses tanggal 17 Desember 2021, pukul 19.45 WIB.

Komentar

Postingan Populer