Langsung ke konten utama

Unggulan

Dicari, Pemain Bola Berkarakter Kuat dan Tangguh bersama Inner Strength BISKUAT ACADEMY 2022

Pemukiman padat identik dengan anak-anak bermain pada sore hari cerah.  Pekik riang mereka tak bisa diredam oleh situasi yang tak stabil.  Harga-harga barang boleh melonjak, resesi mengancam, politik bisa bergejolak.  Namun tiada yang bisa menghentikan tawa riang mereka.   Mungkin hanya pandemi kemarin yang sempat membuat suasana senyap sementara.  Setelah virus mulai mereda, kegembiraan mereka kembali menyeruak di antara tembok-tembok perumahan. Pemukiman menjadi sunyi jika tak ada bocah seliweran. Permainan yang paling sering dilakoni anak-anak, terutama pria, adalah sepak bola. Entah itu di gang sempit atau perumahan dengan lapangan luas, si bundar selalu mampu menerobos lingkungan warga. Melalui tendangan kaki atau sundulan bola, para bocah itu menunjukkan kreativitasnya mengiring bola hingga sulit direbut lawan. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit di tanah air. Setiap pertandingan kejuaraan mulai dari kelas lokal hingga global, dipenuhi penggemar fanatik. Klub-klubnya berteb

Manfaat Menulis Curhatan Hati untuk Kesehatan Mental





 

Sumber : Istockphoto

     Suatu hari menjelang sore sebelum pandemi merebak, saya sedang duduk di teras. Tidak ada rencana kegiatan apapun, hanya menghabiskan waktu bersantai.  Setelah seharian beraktivitas, senang juga duduk tenang sambil melihat-lihat orang berseliweran di depan rumah.

    Tiba-tiba saya melihat beberapa anak tetangga berkumpul bersama.  Tawa riuh mereka mengundang rasa ingin tahu.  Saya mendekat dan melihat mereka bermain pecah piring dengan gembira. Wah, di era digital seperti sekarang, ternyata masih ada anak-anak yang tahu permainan tradisional.

    Pecah piring adalah permainan jadul yang sederhana. Hanya memerlukan bola tenis dan beberapa buah batu pipih sebagai pengganti "piring" yang disusun menjulang. Permainan ini membutuhkan stamina kuat untuk berlari.  Siapa yang tangkas, akan menang. Beberapa anak yang ikutan, dibagi dalam dua grup untuk bermain secara bergiliran.

    Di tulisan ini saya tidak membahas tentang pecah piring, tapi dampak yang dibawa setelah melihat keceriaan anak-anak itu.  Setelah menonton permainan mereka hingga selesai, saya mulai menulis tentang kesan setelah melihat permainan tradisional yang sudah jarang muncul.


Sumber : Istockphoto


    Tulisan yang dibuat seperti ikut memberikan kegembiraan pada saya. Keceriaan anak-anak tadi ikut masuk ke tulisan yang dibuat.  Kenangan masa lalu seakan video yang diputar kembali dalam ingatan.  Ya, semasa SD saya juga sering bermain pecah piring dengan teman-teman sekolah.  Menulis sore ini sudah membuat saya bahagia.


    Dalam artikel yang dimuat di www.psychologytoday.com, Gregory Ciotti membahas ulasan tentang manfaat menulis bagi kesehatan mental.  Selama ini, orang selalu menghindar bila disuruh menulis, karena berpikir kalau menulis itu kurang penting.  Mereka menganggap menulis hanya tugas yang diselesaikan di kantor atau sekolah.  Menulis untuk  kesehatan mental belum masuk dalam agenda banyak orang. 


    Ciotti berpendapat, tulisan yang paling sederhana seperti coretan di buku harian, bisa memberi dampak kelegaan untuk si penulis.  Apalagi kalau kita punya masalah, dan tidak menemukan orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita. Menulis di curhatan di buku tulis atau dalam komputer, bisa mengurangi beban pikiran.


    Supaya lebih jelas, ulasan Ciotti bisa dilihat pada https://www.psychlologytoday.com/how-writing-makes-you-happier-smarter-and-more-persuasive (diakses pada tanggal 17 November 2021 pukul 15.54).  Di dalam artikel ini diuraikan, ada banyak manfaat dari menulis, seperti :

Sumber : Istockphoto


1. Menulis membuat lebih bahagia

    Seperti yang baru dijelaskan di atas, menulis bisa membuat perasaan lebih plong dan bahagia.  Tak ada yang membatasi si penulis untuk mencurahkan perasaannya.  Dia tak perlu malu karena hanya berhadapan dengan pena serta kertas, atau komputer.  Dia bebas melepas semua uneg-uneg.


2.  Menulis melatih cara berkomunikasi dengan lebih baik

    Dengan menulis, kita melatih diri untuk memilih kata-kata.  Semakin sering menulis, semakin terbiasa mengeluarkan pendapat.  Terbiasa mengeluarkan pendapat, membuat kita bisa percaya diri berkomunikasi dengan orang lain.


3. Menulis membantu melewati masa-masa sulit

    Ada peristiwa-peristiwa pahit yang tak diharapkan terjadi, namun singgah dalam hidup.  Tak jarang kepahitan membuat orang yang mengalaminya jadi trauma.  Rasa takut dan sakit, mengakibat korban sulit percaya dengan orang lain.  Daripada hanya menyimpan kesedihan sendiri, lebih baik menulis untuk mencurahkan perasaan.  

    Ciotti menjelaskan kalau terapi melalui menulis tidak bisa terjadi secara instan. Penyembuhan trauma dengan menulis tetap butuh proses dan memakan waktu berbulan-bulan.


Sumber : Istockphoto


4. Menulis dapat menajamkan pikiran

    Kalau olahraga adalah latihan fisik, maka menulis adalah latihan dalam berpikir.  Supaya pikiran tetap sehat dan tetap tajam, menulis bisa jadi alternatif.  Daripada melamun memikirkan masalah yang tak jelas ujung pangkalnya, lebih baik coba tulis apa saja yang nyangkut di pikiran.  Siapa tahu karena rajin berlatih menulis, suatu hari nanti bisa punya karya yang dibaca orang lain.

    

5. Menulis bisa membuat kita bersyukur

    Saya pernah membaca artikel yang isinya cukup menarik.  Penulis artikel menyarankan, ketika dalam keadaan sulit, coba tulis hal-hal sederhana yang sudah kita peroleh selama ini, misalnya punya rumah tempat berteduh dan makan cukup sehari-hari.  Setelah selesai menulis, baca ulang hasil tulisan kita agar bisa mensyukuri apapun yang masih dimiliki.


6. Menulis membuat semakin rajin mempelajari hal baru

    Menulis dan membaca ibarat saudara kandung yang saling membutuhkan.  Apa ide yang mau ditulis kalau kita malas membaca? Untuk mendapatkan tulisan kualitas, penulis disarankan untuk banyak membaca buku bermutu.  Dengan menulis, kita tidak berhenti belajar, apalagi cepat berpuas diri, agar tulisan bisa semakin bagus.


Sumber : Istockphoto


    Ketika kita senang, menulis dapat dijadikan wadah untuk menuangkan cerita bahagia kita. Persis seperti cerita kenangan saya bersama teman-teman di atas.  Menulis membuat memori masa SD seperti berputar kembali.  Saya juga bersyukur pernah punya teman-teman yang seru diajak bermain bersama.


    Saat sedih, menulis juga bisa dijadikan tempat curhat.  Asalkan buku atau komputer tempat menulis dijaga, curhatan hati kita aman dari tangan jahil.  Tak perlu takut masalah pribadi jadi gunjingan, seperti kalau curhat dengan orang lain. 


    Apa yang ingin ditulis hari ini?  Semoga dengan menulis, pikiran, tubuh, dan jiwa kita makin sehat.

        

Komentar

Postingan Populer